Kenapa Rayakan Valentine Itu Haram, Ini Jawabannya?

Kenapa Rayakan Valentine Itu Haram – Artikel ini sebetulnya sekedar ingin menguak, tentang Sejarah Lahirnya Hari Valentine dan Valentine Menurut Islam yang dikutip dari berbagai sumber.
Hari Valentine atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Valentine's Day dimaknai dengan Hari Kasih Sayang. Valentine’s Day jatuh setiap tanggal 14 Februari di setiap tahunnya yang menjadi sebuah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat.

Baca : Kata-Kata Jomblo Sampai Halal, Subahanallah Sejukya

Sejarah Lahirnya Hari Valentine
Berdasarkan informasi yang dikutip dari wikkipedia, sejarah Hari Valentine dimulai pada abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun.
Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.
Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya Valentine itu merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.
Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka ataupun teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya.
"Valentine’s Day juga dijadikan sebagai hari perayaan kesuburan bulan Februari"
Sejarah tentang valentine day ini juga yang membentuk sebuah asosiasi pertengahan bulan Februari yang katanya dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.
Perayaan Valentine dan larangan merayakan Valentine di seluruh dunia
A.   Benua Amerika
Perayaan Hari Valentine di Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, sekitar 190 juta kartu ucapan Hari Kasih Sayang dikirimkan setiap tahunnya.
B.   Asia
Perayaan Hari Valentine di Jepang
Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat pemasaran secara massal, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi dengan permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di perkantoran. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai giri-choko (義理チョコ), dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat).
Peryaan Hari Valentine di Taiwan
Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya yaitu "Hari Raya Anak Perempuan" (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut kalender Tionghoa. Berbanding terbalik dengan Jepang, para pria memberikan cokelat pada wanita saat Hari Kasih Sayang, dan para wanita akan mengembalikan cokelat yang diberikan pada Hari Putih.
Perayaan Hari Valentine di Malaysia
Tokoh Islam di Malaysia mengingatkan umat Islam agar tidak menyambut Hari Kasih Sayang karena terdapat unsur Kristen. Perdana Menteri Datuk Seri Muhyiddin Yassin berkata, perayaan ini "tidak sesuai" untuk umat Islam. Pada tahun 2011, pihak berwajib agama Malaysia menangkap lebih 100 pasangan Muslim karena merayakan Hari Kasih Sayang.
Perayaan Hari Valentine di Arab Saudi
Di Arab Saudi pada tahun 2002 dan 2008, para tokoh agama mengharamkan penjualan segala barang-barang Hari Valentine karena disebut sebagai bagian dari kebudayaan Kristen. Larangan ini menimbulkan pasar gelap yang menjual mawar dan kertas kado.
Perayaan Hari Valentine di Pakistan
Partai Jamaat-e-Islami mendesak supaya Hari Valentine dilarang di Pakistan. Meskipun demikian, perayaan ini semakin gencar. Sehingga para penjual bunga meraup keuntungan berlimpah dari perayaan ini. Hari-hari ini beberapa orang sedang membincangkan dan menyambut datangnya peringatan "Valentine Day". Sebagian umat Islam biasanya memperbincangkan peristiwa ini dari perspektif  hukum. Bahwa secara hukum Islam, peristiwa ini haram untuk dirayakan.
Pandangan ini wajar adanya. Tinjauan hukum memang selalu berusaha untuk menunjukkan kebenaran dan kesalahan secara tegas atau jelas. Satu pihak ada yang membenarkan, di pihak lain ada yang menganggapnya salah.
Maka wacana tentang persoalan hukum sebetulnya lebih mengarah pada cara pandang tentang kebenaran seperti ini : benar menurut siapa dan salah menurut siapa. Keduanya tak bisa digeneralisasikan. Bagi umat Islam yang mengharamkan perayaan Valentine Day, silahkan. Bagi umat Non Muslim yang merasa penting untuk merayakannya, ya silahkan saja. Yang penting keduanya tetap bisa saling menghargainya.
Sejarah Valentine's Day dan Pandangan Islam Tentang Hari Valentine
Pada sejarah Romawi kuno terdahulu, ada tata aturan pergaulan yang memisahkan secara ketat antara laki-laki dan perempuan. Hanya pada event-event tertentu mereka bisa saling bertemu. Misalnya pada eventi Festival Lupercalia yang digelar pada setiap tanggal 15 Februari.
Pada acara ini nama-nama kaum perempuan mereka ditulis pada secarik kertas kecil dan diletakkan dalam kendi atau guci. Para lelaki akan mengambil satu dari nama-nama perempuan dalam guci itu dan menjadi pasangan selama festival berlangsung, ada pasangan yang bertahan hingga 1 tahun, bahkan ada di antaranya yang saling jatuh cinta dan menikah. Kisah ini secara substantif menunjukkan adanya kepedulian dan menganggap penting adanya aturan pergaulan antar muda-mudi menuju pernikahannya.
Pada versi sejarah “Romawi” berikutnya. Kata Valentine dalam “Valentine Day” diambil dari nama seorang pendeta Roma yang hidup sekitar abad ke 3, pada kekaisaran Claudius II. Sebagai seorang pendeta, Valentine lebih konsern membangun peradaban berdasarkan cinta-kasih dalam sebuah keluarga. Untuk itu ia seringkali memfasilitasi pernikahan para pasangan.
Bahkan tugas ini pada akhirnya harus ia lakukan secara diam-diam karena bertentangan dengan aturan Kaisar Claudius yang melarang pernikahan. Larangan ini dikarenakan Claudius adalah seorang raja yang harus terus membangun kekuatan bala tentaranya. Saat itu Claudius menerapkan aturan wajib militer bagi seluruh kaum laki-laki dan oleh karenanya mereka dilarang menikah. Peraturan ini ditentang kebanyakan kaum laki-laki. Mereka menolak menjadi anggota militer kerajaan karena tidak ingin terpisah dari keluarga dan orang-orang terkasihnya.
Dalam sejarah Islam juga ada momentum semacam Valentine Day yang dikenal dengan sebutan "Yaumul Marhamah" (Hari Kasih-Sayang). Peristiwa ini terjadi pada saat penaklukan kota Mekah oleh kaum Muslimin yang dipimpinan langsung oleh Rasulullah SAW.
Ketika beliau dan kaum Muslimin berhasil kembali masuk ke Mekah dengan mudah dan tanpa perlawanan dari kaum kafir yang dulu pernah membantai dan mengusirnya, beliau justru datang dengan menebar salam kedamaian dan bukan semangat balas dendam.
Dalam pidatonya beliau menyatakan, "... hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa ..." (Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing).
Tidak hanya itu, bahkan Rasulullah juga membagi bagikan harta rampasan kepada mereka. Sementara pasukan Islam yang menyertai beliau tidak mendapat apa-apa. Mereka mengeluh dan memprotes. Mereka lalu dikumpulkan dan beliau bertanya: "Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?" Mereka menjawab; sekian tahun, sekian tahun. "Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?" Tanya Rasulullah lagi dan segera dijawab mereka, “Tentu saja sangat mencintai ya Rasulullah”. Rasulullah SAW lalu mengakhiri pertanyaannya: "Kalian memilih mendapatkan unta atau memilih cintaku kepada kalian?"
Kali ini mereka tidak mampu berkata-kata lagi dan hanya menangis haru kerana cinta Rasulullah SAW kepada mereka yang begitu besar dan tak bisa dibandingkan dengan dengan harta benda apapun. Inilah makna Hari Kasih-Sayang dalam sejarah Islam, yakni : Pertama, Islam melindungi kaum lemah, sekalipun mereka pernah memusuhi Islam.
Saat itu beliau dengan seluruh kebesarannya saat berhasil menaklukkan Mekah, tidak bertujuan untuk melawan kemanusiaan melainkan semata-mata untuk menata kembali ideologi yang bertentangan dengan harkat dan martabat mereka. Maka kaum musyrikin Mekah tetap beliau jamin keamanannya meskipun belum bersedia mengikuti jejaknya.
Kedua, Islam mengajarkan ketulusan cinta terhadap sesama manusia. Ketika seorang kafir bernama Fadhalah bin Umair hendak membunuh Rasulullah saat beliau sibuk membersihkan ka'bah dari berhala, beliau justru mendekatinya sambil bertanya, "Apakah yang sedang kaupikirkan Fadhalah?"
Fadhalah kaget dan menjawab, "Saya tidak memikirkan apa-apa, saya sedang teringat Allah ya Rasulullah" Beliau tersenyum mendengar ucapan Fadhalah yang mencoba menutupi niat jahatnya, seraya menepuk-nepuk punggungnya. Lalu beliau meletakkan telapak tangannya pada dada Fadhalah sambil berkata, "Mohon ampunlah kepada Allah ya Fadhalah" Tergetar tubuh Fadhalah merasakan kelembutan sikap seorang pemimpin yang baru saja berhasil menguasai Mekah dengan mudah. Inilah gambaran tentang “Yaumul Marhamah” atau Hari Kasih Sayang dalam sejarah Islam. Secara  substantif,   dapatkah  kita  ketahui  titik  temunya dengan sejarah “Valentine Day?"

Nah itu dia tentang pemaknaan hari valentine yang bisa kita pelajari, ambil baiknya buang buruknya, semoga kita makhluk yang terhindar dari dosa dan kebencanaan yang timbulkan malapetaka. Semoga bermanfaat. (Artikel dikutip dari berbagai sumber)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kenapa Rayakan Valentine Itu Haram, Ini Jawabannya?"

Post a Comment