Pengalaman Wisata Murah di Jogja, Sekitaran Malioboro

Bandar Udara Adisutjipto International Airport, Yogyakarta
Pengalaman Wisata Murah di Jogja (Jomblo Traveler's)  - Perjalanan saya di Jogja, dimulai dari Bandara AdiSutjipto, sudah barang tentu, penerbangan ke Lampung – Ygoyakarta tanpa transit itu menyenangkan. Hanya saja yang tak menyenangkan waktu penerbangannya sore. Tidak ada penerbangan pagi. Dan pengalaman wisata murah di Jogja saya mulai.
Seperti ini ceritanya : 

Baca : Gaya Pacaran ABG 90-an yang Tidak Dirasakan ABG Zaman Now

Setelah turun dari Bandara, yang saya cari di Jogja adalah tempat makan. Memaklumi isi perut yang sudah mulai mak kerunyuk. Alias lapar kebangetan. Tapi di mana cari makan yang kenyang, pedas, enak, dan bikin pengen dateng lagi. Berhubung tidak ada persiapan, dan saya tidak mengotak atik google, untung saja kedatangan saya dan beberapa teman saya di Jogja ditemani orang yang baik, kerabat dari Wonosobo Jawa Tengah. Sebab, kali ini bukan liburan ada tugas yang harus diselesaikan di Wonosobo. Sementara di Jogja baru singgah untuk merilekskan pikiran.

Oke, jadi begini. Saya sempat tanya? Saya percayakan kepada bapak, tempat makan yang enak di Jogja. Kalau bisa nasi? Asal jangan nasi padang, di Lampung banyak.

Si Bapak menangguk, dan melajukan kendaraanya ke Rumah Makan Adan. Menjual segala jenis hewan konsumsi nampaknya, dari ikan air tawar, sampe hewan ternak, ayam, bebek, burung dara, burung puyuh, dan lain-lain. Serta aneka sambal yang pedas, tapi buat ketagihan.

Saya pikir awalnya mahal. Makan ber lima bisa lewat ini isi kantong kalau lebih dari 200.000. eits, dengan menu yang banyak, ternyata harganya terjangkau kantong. Sekali makan berlima kurang dari 200.000 kami membayarnya. Padahal menu yang kami pilih termasuk banyak dan mewah.

Dan ke warung adan ini juga dua kali mampir jadinya. Saat mendatangi Jogja dari Lampung dan saat mendatangi Jogja dari Wonosobo. Terimakasih informasi tempat ini. Ini adalah tempat baru bagi saya. Next ke Jogja mampir lagi.

Baca : Tempat-Tempat Wisata Untuk Para Jomblo di Indonesia

Selanjutnya saya perjalanan ke Wonosobo. Saya takkan cerita tentang Wonosobo. Karena ada sesi cerita lainnya tentang Wonosobo di www.jomblotravelers.com dibaca juga ya.

Kembalinya dari Wonosobo, saat itu hari Jum'at, sudah mau Jum'at-an nih. Di sini saya ngerasain makan bakso harga seperti bakso sony di Lampung, tapi soal cita rasa masih belum serupa. Ini tak jauh dari pelataran masjid gede, Jogja, masjid keraton yang dekat dengan alun-alun. Buat isi perut lumayan, ketika shalat tidak keroncongan.

Lalu, saya dan teman-teman berangkat ke masjid untuk shalat jum'at. Rame banget cuy. Asli dah, keren. Ini adalah kali ke empat saya, shalat di masjid gede Jogja. Memang selain warga, banyak wisatawan yang juga shalat di sini. Nah, pas hari kedatangan dari Lampung ke Jogja saya dan teman-teman juga shalat di masjid Jogokariyan Jogja loh. Rame juga tuh. Senang sekali, masjid-masjid di Jogja selalu ramai jamaah.

Setelah shalat Ju'mat kami pun memutuskan untuk makan. Dan dipilihlah Rumah Makan Adan lagi. Lalu, kami mencari hotel. Hotel tak jauh dari kawasan Malioboro. Malah dibelakang Malioboro. Di tempat ini saya maksudkan agar leluasa untuk berpergian. Dan hasilnya kami bertiga dapat hotel syariah, ada mushala depan kamar kami. Jadi tidak terlalu repot untuk shalat.

Tak hanya itu, jarak hotel ke Malioboro sangat dekat. Harganya cukup murah ketika berada di sekitar kawasan keramaian, apalagi hari Jum'at ke Sabtu yang notabene hari wisatawan banyak kunjungi Jogja. Kami dapat harga kamar 350 ribu untuk ruangan Family Room. Bisa bertiga.

Baca : Ide Gila Ala Jombo Ketika Traveling

Setelah itu, kunjungan wisata pun dilanjutkan ke Taman Pintar. Cie ileh, ke Taman Pintar. Yup. Biar pintar. Di sana itu ada bangunan yang semuanya menjual buku. Awal saya pikir paling kaya di pasar bawah Ramayana Kota. 

Saya datang, dan langsung berhenti di salah satu tempat, yang menjual adalah seorang ibu tua. Mulai cerita. Ternyata dia pernah tinggal di Lampung Selatan. Merantau, tapi pulang lagi, karena tidak bisa menghidupi kebutuhan, pekerjaan di Lampung katanya sulit. Oke selesai sesi curhat, saya pun melihat banyak macam buku. 

Saya berhasil mendapatkan buku di satu kunjungan saya kali ini. Buku yang murah. Murah sekali, buku anak-anak dan saya pulang bisa dibeli dengan harga 3-5 ribu rupiah. Saya pun borong Rp150 ribu rupiah untuk buku-buku termasuk Al-Qur'an. Asli bukunya murah-murah.

Dari mencari buku, kami pun kembali ke hotel dan beristirahat. Agak lama. Sehabis magrib, saya pun sudah menghubungi seorang teman perempuan yang menikah dengan orang Jogja, dan kebetulan suaminya memiliki penerbitan buku sastra, yakni puisi. Akhirnya saya main ke rumahnya, karena janjian ke luar, hujan tak kunjung reda.

Saat main ke rumah teman ini, hujan bak badai, besar sekali. Tapi sampai. Akhirnya kami disambut. Masuk ke rumah. Lalu, berbincang soal buku. Termasuk berbincang puisi yang syahdu untuk didiskusikan. Panjang x lebar, alas x tinggi, kami dipersilakan makan sate yang ada di Jogja. Setelah makan sudah tahu dong apa yang saya lakukan, yup, pulang.

Ha... kebiasaan. Tapi bukan itu alasannya. Memang mau pulang, kebetulan disuruh makan. Tapi saya menjejak. Di rumahnya banyak karya penulis baik dari orang Jogja maupun luar Jogja. Jadi saya beli buku-buku yang telah ia cetakkan itu. Alhamdulillah sudah dibonusi, di diskon 20an persen, jadi saya dapat buku-buku murah. Uang 100 ribu masih disusuki (Ada kembalian). Kalau di Lampung bisa kurang, 200 ribu aja baru bisa dapat 2 buku, banyaknya 3-4. Di Jogja, tas saya dengan uang 250 ribu, bisa sesak dengan buku.

Akhirnya dapat Go-Car. Dan melanjutkan ke angkringan Kopi Jos Pak Min. Di sinilah saya bawa rekan-rekan saya yang belum pernah menikmati suasana jogja untuk ngopi areng dan menikmati angkringan. Lahap, dan penasaran dengan kopi ada arengnya, ada keraguan, tapi tetap diminum. Selamat menikmati kawan. Kita pun lanjut foto diplang jalan Malioboro. Kalau di Lampung kok nggak ada yang ngajak foto tiang jalan ya. Hmm.

Perjalanan selanjutnya, tentu pulang. Saya istirahat. Sedangkan kedua rekan saya masih mengembara. Berbekal 50 ribu rupiah, mereka pun mengunjungi nol kilometer. Sampai pertengahan malam menjelang pagi mereka pun pulang. 

Paginya, ini dia yang kami lakukan. Sarapan di sepanjang jalan Malioboro. Nasi pecel yang komplait lauk pauknya bisa diambil dan dibayar pastinya. Sego Pecel. Enak Rek. Kapan-kapan ke Jogja ke sini lagi ya. Masih dalam jangkauanlah, makan bertiga habisnya kurang lebih 50 ribuan. Sudah termasuk teh hangat dan beberapa sate khas Jogja yang kami makan.

Selanjutnya berbelanja pakaian, berburu atribut ketampanan. Uhuy. Pasar Bringharjo pun menjadi pilihan. Lalu, mampir ke beberapa gerai, untuk menikmati padatnya tempat-tempat yang ada di Jogja. Melihat aktifitas membatik di Jogja juga termasuk hal yang menyenangkan. Selain itu juga kalian bisa memilih sesuai selera bahan dan harga di tempat ini. Tentunya Jogja memang surganya makanan dan barang murah, seperti buku dan batik.

Kami pun kembali ke hotel. Bersiap untuk merapihkan pakaian. Karena sore harinya kami pulang. Tapi karena jadwal check out dari Hotel itu jam 13.00 sementara pesawat baru terbang jam 18.00, jadi kami pun harus menitipkan barang ke reseptionis. Lalu, kembali berkeliling, dan tujuan terakhir adalah menikmati kota, dengan menggunakan Delman Istimewa. Harganya Rp50 ribu, sudah keliling jauh banget nih, si bapak minta tips, dikasih 10 ribu. Karena sepanjang jalan kita nggak beli pakaian ataupun bakpia. Karena sudah beli sebelumnya, jadi cuma keliling saja. Nah, enak toh di jogja. 

Dibawah ini foto keseruan kami lainnya : 







Newest
Previous
Next Post »