Menjadi Jomblo Keren, Teladan Umat

Menjadi Jomblo Keren
www.jomblotravelers.com - Kisah ini saya ambil dari sebuah buku Single? Asyikin Aja, deh! @nasihatku penerbit salam. Berawal dari sebuah tulisan, ia adalah seorang lelaki bernama Muhyiddin Abu Zakaria Yahya ibn Syirf Al-Nawawi atau lebih dikenal dengan Imam Al-Nawawi.
Ia dilahirkan di Nawa, sebuah wilayah di Damaskus, Syam, pada Muharram 631 H (1233 M) dan sudah menjadi seorang hafizh (penghafal Al-Quran) sejak kecil. Ketika berusia 19, ia pergi ke Damaskus untuk mendalami ilmu di Madrasah Al-Ruwahiyah dengan beasiswa dari Madarasah tersebut.
Meskipun Imam Al-Nawawi orang berilmu, ia memiliki karakter sederhana. Ia hidup dengan kesederhanaan dan anti-kemewahan, tidak suka dengan kesenangan pribadi, seperti berpakaian indah, makan dan minum yang lezat, serta tampil mentereng.
Pakaiannya seadanya, makanannya juga seadanya, makan dan minum sheari semalam hanya sekali, minum seteguk waktu sahur saja, dan tempat tidurnya hanyalah kulit yang disamak.
Imam Al-Nawawi juga seorang yang bertakwa dan bersih jiwanya. Karena sangat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan, ia memiliki sifat wara’ (berhati-hati).
Sepanjang hidupnya, Imam Al-Nawawi senantiasa berzikir dan mendekatkan diri kepada Allah. Ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal sepele. Ia mengajar, menulis, dan mengarang. Inilah yang mengangkatnya hingga menjadi sosok yang dikagumi.
Banyak karya telah dihasilkannya, di antaranya, Matan Al-‘Arba’in, Riyadhush Shalihin, Syarh Shahih Muslim, Al-Adzkar, dan Al-Tibayan fi Al-Adab Hamalat Al-Qur’an.
Hidupnya dihabiskan untuk berkhidmat terhadap penyebaran dan perkembangan ilmu islam secara istiqamah. Ia tidak pernah menjual ilmunya dengan hal-hal duniawi.
Ia hidup membujang dan tidak sempat menikah selama hidupnya, ditengah-tengah suasana masyarakat Damaskus.
Pada 24 Rajab 676 H (1277 M), ia wafat pada usia 45.
Subhanallah, Imam Al-Nawawi ternyata memilih jomblo karena mewakafkan dirinya untuk menjaga ilmu Allah. Ulama zaman dulu, meskipun mereka jomblo, tidak merasa sedih hanya karena tidak (sempat) menikah.
Karena dulu, jomblo itu karena fokus mendalami ilmu, ibadah kepada Allah, dan menebar manfaat bagi umat. Adapun sekarang, jomblo diartikan sebagai orang yang tidak mampu menyari pasangan karena keterbatasan diri, bahkan ada yang menjomblo karena sering berkubang dengan dunia maksiat, sehingga lupa mencari pasangan.
Jika jomblo itu menimpa para ulama, dan orang saleh, hal itu dijalani dengan penuh kebahagiaan. Tidak seperti kita yang merana, kesepian, sedih, geisah, galau, hampa, hilang semangat hidup, hilang nafsu makan, terjangkit sindrom self-limiting beliefs.
Sekian, catatan yang bisa www.jomblotravelers.com infokan semoga bermanfaat.
Jangan lupa, baca artikel lainnya :
Previous
Next Post »