Nikmatnya Kopi Way Kanan, Wanginya Sungguh Menggoda...


Nikmatnya Kopi Way Kanan – Perjalanan saya dimulai dari Bandar Lampung, Minggu (13/8). Way Kanan memang sudah tak asing bagi saya. Bukan lahir dan besar di Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Sumatera Selatan itu, tapi memang sering beraktifitas menjalankan pekerjaan yang bersangkut paut dengan Kabupaten pemekaran Lampung Utara tersebut.

Saya pikir, perjalanan saya ke Way Kanan akan tampak biasa saja. Tak ada sesuatu yang lebih yang bisa saya tulis dan ceritakan. Beberapa tempat tujuan sudah saya tuliskan. Dan Perjalanan saya kali tujuannya ke tempat yang sama.

 

Baca Juga : Indahnya Si Putri Malu (Air Terjun)


Memang, tak masuk ke Air Terjun Putri Malu, tapi ke kebun kopi yang pernah saya lewati saat mau ke Putri Malu, di Kampung Jukuh Batu, Kecamatan Banjit. Bahkan sejarah air terjun putri malu pun sudah saya tuliskan berdasarkan keterangan mantan kepala kampung setempat.

Berikut Reportasenya : Sejarah Air Terjun Putri Malu, Way Kanan


Tujuan saya ke kebun kopi yang ada di Kampung Jukuh Batu itu untuk melengkapi beberapa data kebutuhan pekerjaan yang sedang saya dan teman-teman kerjakan. Kebetulan, informasi yang kami dengar, kebun kopi sedang berbuah dan merah-merah.

Saat pertama saya datang ke lokasi yang sama itu, kebun kopi sedang tak buah. Maka saya hanya menikmati indahnya air terjun putri malu. Nah, kedatangan kemarin secara khusus untuk melihat itu. Selain juga melihat beberapa ruas jalan yang telah diperbaiki.

Setelah bertemu dengan Bupati Way Kanan, Raden Adipati Surya dan orang-orang pemerintah daerah, kami pun melakukan aktifitas lainnya yang menjadi giat pekerjaan sekaligus melihat keindahan alam yang selalu dirindukan para traveler yang ada di Way Kanan.

Selasa (15/8), dengan mobil offroad kami pun menuju lokasi. Di jalan usai bertemu dengan Bupati, kami pun bertemu dengan beberapa warga yang pernah menjadi ojek ke Putri Malu untuk menyaksikan indahnya air terjun. Bapak itu dengan ramah untuk mampir ke rumahnya.

Mampir sebentar. Sampai sekarang menjadi dosa saya adalah, saya lupa dengan nama bapak yang telah membuatkan kopi yang saya rasa enak. Kopi khas Way Kanan. Kopi dari kebunnya langsung, ia olah sendiri, dan ia buatkan untuk saya dan teman-teman.

Saya bukan pecinta kopi. Tapi saya suka aroma kopi. Pas datang. Saya langsung ambil kopi yang harumnya saat diletakan sudah mengganggu indra penciuman saya. Saya ambil dan hirup dalam-dalam. Seperti candu yang telah merobek semua aroma lainnya dan lelah yang hinggap pada tubuh. Saya pun mulai mencicipi kopi itu dengan begitu nikmat ala saya sendiri.

Saya rasakan sedikit demi sedikit, nikmat, wangi, kopi dan saya seperti melebur menjadi satu. Setelah berulang kali menghirup dan meminum kopi saya pun memulai beberapa pertanyaan kepada si bapak dan ibu.

Saya : Pak, ini kopi asli dari Kampung Jukuh Batu, Banjit?
Bapak : Iya dari kebun saya sendiri mas.
Saya : Berapa per kilo?
Bapak : Sudah matang atau apa nih mas?
Saya : Bijinya pak?
Bapak : Yang sudah siap digiling 25 ribu per kilogram. Banyak sedikit harga distributor ya segitu.
Saya mengangguk. Saya kembali menghirup dan meneguk kopi yang panas itu. Menikmati setiap aliran kopi yang jatuh pada kerongkongan.
Saya : Yang masih hijau ada. Maksudnya, yang belum dijemur. Kopi yang sudah panen, dan bisa memilih?
Bapak : Tidak mas. Kita jual sudah dilepas kulitnya.

Si Ibu lalu keluar dari rumah. Ia melihat saya dengan aneh karena menikmati kopi dengan cara yang tak pernah mereka lihat atau seperti orang yang sangat kehausan.

Saya : Maaf ya bu. Saya suka wangi ini kopi. Rasanya pas juga. Enak. Wah, kalau ada yang jual saya mau coba nih di rumah dengan beberapa cara penyeduhan?
Ibu : Ada kok mas nanti saya bungkuskan.
Saya : Ini digiling apa ditumbuk bu?
Ibu : Digiling mas, jarang sudah ditumbuk. Padahal ditumbuk enak loh. Tapi ya itu sudah tidak telaten lagi.


Saya menangguk kembali dan menikmati kopi. Lalu kami pun akhirnya mendapatkan ojek naik ke hutan register yang ada di wilayah perbatasan Way Kanan dan Lampung Barat untuk melihat kopi dan negeri di atas awan.

Kopi yang keluar saat itu ada 6 gelas. Saya langsung bayarkan Rp100.000 untuk kopi yang nikmat. Tak terlalu mahal. Karena memang nikmatnya patut dihargai sebanding, meski si ibu dan bapak tidak minta untuk dibayar. (Saya masih ada setengah bungkus kalau mau).

Saya jadi merasa bodoh sendiri? Saat tahun lalu ke Way Kanan, kenapa saya tidak menikmati kopi warga kampung sini yang murni dari kebun mereka dan diolah mereka sendiri. Wah? Saya jadi kudet padahal kebun kopi saya lihat dengan jelas hamparannya begitu nyata.

Wajar saja. Saya takut dengan kopi. Beberapa kali ngopi dengan kopi yang tidak cocok membuat lambung saya berulah. Saya selalu mual, dan bahkan menjadi demam. Saya tak bisa minum sembarang kopi. Sama halnya, saya tak bisa sembarang untuk jatuh cinta. Jika sembarang dan ternyata salah, itu akan menyiksa hidup dan kesehatan saya.

Akhirnya, waktu yang ditunggu pun berlangsung. Saya dan kawan-kawan naik ke atas ke kawasan hutan register yang sebagian lahanya menjadi izin kelola menanam kopi. Sudah kuduga dari perjalanan sebelumnya. Di mana padi-padi lagi tak tanam, tapi bunga kopi sedang berkembang dan aromanya sangat wangi. Saya akan menemukan keindahan ditempat ini. Maka di dalam mobil saya selalu tersenyum. Saya yakin akan ada kepuasan tersendiri di tempat ini yang pada akhirnya bisa membuat saya jatuh cinta.

Naik ke kawasan register, jalanan hutan yang tak bisa dilalui sembarang kendaraan. Pohon-pohon kopi berbunga. Aroma wangi merasuki sanubari hati. Sangat jelas melintas wanginya. Aroma begitu menggoda untukku miliki. Nikmatnya.

Bunga-bunga bermekaran. Ibarat gadis yang terus memanggil untuk dijemput dan difoto. Wah, luar biasa. Aroma wanginya lagi-lagi sungguh menggoda.

Kopi teramat menyegarkan menanti senja berpulang. Mesra. Terlebih suasana ketika saya sampai di atas pegunungan yang bisa melihat bukit-bukit indah berkabut. Ibarat negeri di atas awan. Saya juga bisa melihat tinggi dan indahnya air terjun yang ada di Lampung Barat. Sesekali main ke sini, biar bisa jelas dengan apa yang saya jelaskan.



Previous
Next Post »