Jomblo di antara pilihan : Menikah atau Pacaran

www.jomblotravelers.com
JOMBLO DI ANTARA PILIHAN – Menikah atau pacaran. Kedua hal tersebut memang kerap menjadi kebimbangan bagi para jomblo. Masalahnya, kalau menikah butuh biaya yang tidak sedikit. Sementara, pacaran menghabiskan anggaran yang sedang dikumpulkan untuk menikah. Wah, repot ya kalau kita berpola pikir seperti itu.
Yang harus kita ketahui, jomblo itu bukanlah hal yang sangat menakutkan. Karena banyak orang menganggap status jomblo adalah hal yang menakutkan. Jadi, orang-orang yang belum siap menikah lebih memilih untuk pacaran.
Pacaran. Nah, itu dia. Setiap orang yang pada akhirnya lebih memilih pacaran dari pada langsung menikah adalah orang-orang yang terjerat diperdalaman masalah. Masalah takut dihina sebagai seseorang yang tidak laku. Masalah disebut sebagai orang yang tingkat kejombloannya sangat ngenes. Masalah melihat orang-orang bisa berjalan berdua disetiap malam minggu. Masalah melihat temannya bahagia karena sudah menikah lebih dulu. Masalah melihat temannya punya pacar di mana-mana. Pada akhirnya, masalah yang sudah dalam akan lebih mendalamkan lagi.
Karena ketika pacaran akan terus muncul masalah baru. Dari masalah takut kehilangan. Masalah takut diselingkuhi. Masalah takut disakiti. Masalah takut hanya menjadi pelampiasan hawa nafsu. Hingga masalah-masalah lainnya. Wah, ternyata kalau begini terus, kita sama saja menabung masalah selama ini.
Sangking takutnya tidak laku, dan khawatir tidak menikah, banyak juga sebagian orang yang pada akhirnya harus memaksakan diri berpacaran, padahal seseorang itu tidak suka dengan orang yang dipacarinya. Status palsu. Ya, itu namanya.
Status palsu ini bisa disebut punya niatan untuk pacaran, tapi karena terpaksa agar terhindar dari segala masalah yang sudah saya sebutkan tadi. Ini istilah berhutang sama renternir, mengatasi masalah dengan masalah baru. Maka celakalah.
Status palsu dalam pacaran pun bermacam-macam. Bisa jadi karena dipaksa temen, orang tua, bisa juga maksain diri supaya dianggap keren. Tapi nanti kalau ada yang mencibir sedikit pasangannya langsung deh gelagapan bingung, yang pada akhirnya memilih menyakiti. Artinya, kalau bisa saya lebih detilkan lagi, ini ibarat meminjam uang kepada renternir, berharap mengatasi masalah tapi dengan masalah baru.
Ada juga di antara kita, yang pada akhirnya bingung dalam penjara dua istilah. Menikah atau pacaran. Ini tipikal orang yang tidak bisa hidup sendirian tanpa seseorang yang spesial.
Merasa belum siap menikah. Sampai akhirnya memilih untuk pacaran agar selalu sehat dalam sakit merian (merindukan kasih sayang). Kenapa sih kebanyakan orang seperti itu? coba bantu saya menjawab?
....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
Oke dari jawaban di atas yang telah teman-teman tulis, saya bisa menyimpulkan bahwa kebanyakan dari seseorang yang memaksakan diri untuk berpacaran itu rata-rata agar tidak ada yang bilang kuper (kurang pergaulan), biar dianggap laku, memastikan masih ada yang sayang sama kita, untuk semangat belajar, sekedar ingin tahu rasanya jatuh cinta dan dirindukan, dan lain halnya yang dianggap logika para jomblo masuk akal, tapi sulit untuk dipahami.

Terus gimana dengan yang jomblo????
Jomblo juga bisa menjadi pilihan. Tidak perlu pusing. Apa yang harus dipusingkan kalau menjadi seseorang dengan status jomblo? Kenapa?
-      Apakah hanya perkara takut disebut nggak punya pacar
-      Apakah hanya perkara takut disebut sebagai seseorang yang nggak laku, kuper, bla..bla..bla apa kata orang?
Nah, coba kita memandang seorang jomblo dari sudut yang berbeda. Coba deh. Misalnya, kita adalah seorang jomblo yang benar-benar seorang diri. Kita dalam kondisi independen (tidak memihak manapun, termasuk diri kita yang sedang jomblo. Kita juga dalam kondisi sebagai jomblo yang mandiri (kemana-mana sendiri). Lalu, pastinya kita menjadi jomblo yang merdeka (seorang jomblo yang benar-benar bahagia, tanpa beban, tanpa harus dipusingin status pacaran, dan tahu-tahunya kita menikah).

Nah, coba memandang dari sudut itu. Kira-kira apa yang bisa kita simpulkan?
....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
Pusing ya. Ya sudah. Kalau memang ngerasa pusing mikirin status jomblo, ya kenapa harus dipikirin. Mending nggak usah dipikirin toh. Jadi nggak merdeka kalau dipikirin. Biarkan mengalir seperti air. Tidak pusing dengan status.
Coba deh tanya dengan beberapa teman kamu yang jomblo dari lahir alias tidak pacaran. Gimana mereka memandang status jomblo? Lalu kasih pertanyaan, kalau dia (sebagai seorang jomblo) dihadapan dua pilihan, menikah atau pacaran? Temanmu itu pilih yang mana?
Jadi seperti ini, saya jadi ingat dengan cerita seorang teman saya. Seorang teman pernah bercerita. Di dalam ceritnya mengandung banyak pesan. Kira-kira seperti ini, kalau kamu berharap dilihat sebagai seseorang yang keren dengan memiliki pasangan yang keren dengan pacaran, maka kamu adalah orang-orang yang tersesat dari sebuah pernyataan kerennya setan. Karena gaya berpacaran kamu adalah gaya berpacaran yang dipaksakan! Semua yang dipaksakan akan menjadi tidak keren.
Kenapa tidak memutuskan untuk menikah? Biar kemana-kemana romantisnya semakin keren. Karena sudah sangat biasa orang yang berpacaran pada akhirnya menikah.
Nah, coba, orang yang jomblo pada akhirnya menikah. Itu luar biasa. Artinya, jomblomu menjadi sebuah prestasi yang membanggakan. Kenapa? Karena sudah teramat biasa,
“eh si anu menikah loh sama si ana.”
“Iya emang si anu kan pacaran sama ana, wajarlah, apalagi si anu dan ana pacaran sudah lama.”
Keren nggak. Pasti biasa aja.
Coba deh, dengan yang seperti ini, “eh tau nggak, si ana dilamar di anu, dan besok hari H menikah.”
“Eh iya tah. Kok bisa ya. Padahal mereka kan nggak pacaran. Tapi bisa menikah ya. namanya jodoh, nggak kemana.”

Menurut kalian gimana?

Jadi jomblo itu adalah ihwal harga diri. Bukan karena tidak ada yang mau sama kita. Tapi kita juga jangan terbelenggu dengan istilah jomblo. Kita harus siapkan beberapa tahap kedepan, yakni, untuk menikah. Jadi pilihan kalau takut jomblo bukan diselesaikan dengan berpacaran. Melainkan dengan pernikahan. Semoga, kita adalah orang-orang yang dimudahkan ya.
Previous
Next Post »