Serial Novel Begal Cinta : Menghapus Memori Terburuk Karena Mantan

Melepaskan beban penderitaan karena cinta yang berkarat itu adalah melupakan orang yang pernah kita cintai.

(11) Menghapus Memori Terburuk
Cinta yang gue miliki dibegal, dirampas begitu saja membuat gue memahami artinya kenyaman, kesempurnaan cintaa.... (Njirrr gue malah nyanyi -,- ). Pada dasarnya, perasaan gue akhirnya sama seperti korban-korban pembegalan di jalanan, trauma, luka dan kehilangan tapi harus berusaha tegar dan bilang ke semua orang, “Alhamdulillah, ya, gue nya nggak apa-apa..”
Itu menyesakkan....
Setiap hubungan dan setiap apa yang ada di masa lalu bisa saja menjadi memori terburuk dalam melangkah ke depan. Gue masih inget bagimana sakitya diselingkuhin. Perselingkuhan itu seperti monster yang bisa terjadi pada siapa saja. Sudah memiliki status yang sah dalam pernikahan saja masih bisa melakukan perselingkuhan, apalagi yang masih pacaran. Ini memori terburuk yang kerap menyambangi semua orang hingga menjadi apatis sekaligus phobia terhadap cinta.
Makin lengkap jika gue pikir bagaimana cinta gue yang saat ini berkarat-karat. Semoga gue bisa ikhlas menikmati lukanya. Melepaskan beban penderitaan karena CINTA yang BERKARAT itu adalah melupakan orang yang pernah kita cintai.
Gue nggak pernah bilang bahwa semua akan berjalan mudah, tapi setidaknya gue pernah melakukan hal yang membuat gue menuju move on selama gue gagal memaknai sebuah cinta.
Karena menurut gue ditinggalkan dan memutuskan untuk meninggalkan karena lebih memilih sendiri itu artinya Allah masih sayang sama gue. Gue dimintanya untuk berpikir, siapa yang patut dicintai selama ini. Siapa yang patut diperjuangkan selama ini. Siapa yang patut dikejar kasih sayangnya.
Dengan terusnya mengingat memori terburuk, di situ juga gue berusaha mencari cara untuk melupakan Cua dan Cici. Gue berpikir inilah tugas tersulit yang akan gue lakukan dalam hidup. Sakit hati yang besar diusahakan untuk dihilangkan dan dilupakan.
Sampai akhirnya, gue pun menemukan cara melupakan Cua dan Cici. Kuncinya ada di diri gue sendiri. Seberapa yakin gue melupakan mereka. Seberapa yakin gue nggak buat masalah baru karena jatuh cinta yang berlebihan terhadap sesama manusia. Seberapa yakin gue bisa memantaskan diri untuk orang yang pantas hidup bersama gue diwaktunya kelak.
Gue banyak belajar dari rasa kekecewaan dan sakit hati yang melanda. Saat gue dalam merasa kekecewaan dalam cinta, saat ada temen yang mencoba nasehatin dengan kata-kata “It's oke wae, koe rapopo,” mungkin rasanya mau nabok itu mulut mereka yang mudah sekali berucap. Iya nggak sih? Tapi sesungguhnya kata-kata mereka tuh benar. Gue selama ini terlalu egois untuk tidak mendengarkan nasihat mereka.
Seiring, sesering, dan sejalan yang gue lalui pun gue berusaha dengan beberapa cara yang membuat gue harus lebih yakin dengan pilihan hidup gue. Ada banyak hal yang gue lakuin sambil berusaha begitu keras untuk melupkan sakit hati yang membuat cinta gue berkarat.
Yang pertama, memastikan diri untuk teguh pada pendirian. Mencintai sesama manusia sekadarnya, dan cari waktu yang tepat hingga dengan cepat merasa siap untuk ke tahap yang lebih serius.
Kedua, di sini gue berusaha untuk mengurangi porsi mantan yang terbuyar pada kenangan. Gue berusaha menghapus semua memori tentang Cua dan Cici. Salah satunya dengan menghapus semua foto mereka. Prinsip gue, semua yang menyakitkan coba dihilangkan sedikit demi sedikit. Jangan terlalu dipaksa untuk harus hari itu juga. Perlahan demi perlahan hingga akhirnya lupa.
Lalu yang ke tiga gue mulai menjauh dari tempat-tempat yang biasa gue pergi sama dia. Jangan sampai gue datang ke lokasi yang kerap gue sambangi dengan mantan, kecuali di sana ada bagi-bagi sembako gratis. Intinya, Gue berusaha nggak memiliki dendam.
Langkah yang ke empat, gue jadi suka menghabiskan waktu berkumpul dengan teman dan keluarga. Asal jangan kumpul kebo, kumpul sama kerbau. Dengan berkumpul dan beraktifitas penuh membuat pikiran gue teralihkan.
Gue juga kerap membuat pertanyaan untuk diri sendiri, dan ini biasanya menjadi langkah gue yang ke lima. KIRA-KIRA APA YANG ADA DI HATINYA TENTANG GUE?” Karena gue fikir keberhasilan suatu hubungan membutuhkan usaha DUA PIHAK, bukan satu pihak, apalagi pihak ketiga, ini hati bukan proyek.
Kalau dari usaha aja sudah tidak ada keadilan, dari rasa cinta dia nggak sebesar rasa cinta gue ke dia, mending gue simpen aja rasa cinta gue ini buat seseorang yang memiliki perasaan yang sama kepada gue nanti. “Nanti” ketika semua sudah dipersiapkan pada pernikahan tanpa harus terburu-buru yang menjadi masalah baru.
Kemudian gue bertanya-tanya lagi sama diri gue sendiri? “APA DIA SESEORANG YANG LAYAK UNTUK GUE PERJUANGIN?” Kalau gue benar-benar cinta dia dan rela berkorban untuk itu. “APA DIA LAKUIN HAL YANG SAMA KE GUE?” pertanyaan-pertanyaan kayak gini ini yang membuat gue buka mata tentang kualitas cinta dia kepada gue, ketulusan cinta, dan keadilan cinta. Terlebih apakah jatuh cinta itu diperbolehkan? Dan itu juga masih menjadi pertanyaan gue.
Akhirnya, gue lebih memilih untuk lebih mencintai diri sendiri. Gue adalah seseorang yang istimewa dan gue HARUS BAHAGIA. Jika dia nggak berpikiran itu dan malah bikin gue sedih, berarti dia NGGAK penting buat gue. Kembali mencoba mengingat siapa yang lebih pantas diagungkan karena sebuah kecintaan, bukanlah manusia melainkan......
Ke enam, gue coba yakinkan diri sendiri. STOP mengejar-mengejar orang yang nggak cinta. Mulailah mencari orang lain yang tulus mencintai. Selalu inget istilah: ”KALAU JODOH NGGAK KEMANA, TAPI KALAU NGGAK KEMANA-MANA NGGAK DAPAT JODOH dan inget kata Afgan ”JODOH PASTI BERTEMU. So... kalau gue sama dia berjodoh, pada akhirnya gue dan dia memang akan bersama, karena itulah takdir dari Tuhan.
Jadi gue nggak perlu terlalu NGOYO-NGOYO, berlarut dalam sedih-sedih kehilangan dia. Ikhlas itulah kuncinya, sabar itu wadahnya. Yakin bahwa ada kekuatan yang lebih besar, yang telah mengatur hidup. Ya, mungkin ketika gue nggak berjodoh dengan dia dipelaminan, tapi gue tetap berjodoh menjadi tamu undangan.
Sampai akhirnya gue harus lebih siap menghadapi kenyataan. Berhenti berharap yang tidak pasti. Yang memberikan cinta adalah Tuhan, so berdoalah kepada Dia untuk mengambil cinta itu kembali.
Gue nggak mau nipu diri sendiri dengan mengatakan?Suatu saat dia akan berubah dan akan kembali lagi kepada gue?” Yang namanya cinta sejati, akan menerima gue apa adanya, biar seburuk apapun dia dan bahkan saat dia nggak cinta sama gue.
Gue pun berhasil hentikan semua aktifitas menghubungi dia karena itu akan bikin gue kecanduan. Kalau gue masih berpikir?Nggak ada harapan buat hubungan ini, buat apa gue nyiksa diri sendiri? Move On. Temuin banyak orang, lanjutin hidup. Gue mesti “Siap” saat “The right one” datang.
Saat itu gue berpikir bahwa nggak ada yang lebih baik dari dia, tapi itu pikiran yang SALAH. Diri gue aja yang nggak pernah siap untuk bertemu orang yang lebih baik karena saat itu gue masih sibuk mikirin mantan. Jadi berhenti untuk berada di sekitar mantan, jika mungkin.
Ayo bebaskan diri dari belenggu MANTAN. Jangan lagi MIKIRIN MANTAN, apalagi berharap kembali pada PACARAN, KEMBALILAH MEMIKIRKAN TUHAN, sudah pantaskah kita diperjuangkan karena IMAN.
Terakhir, STOP menyalahkan diri sendiri dengan pertanyaan? Kenapa gue disakitin? kenapa gue nggak bisa mempertahankan hubungan ini? Apa yang kurang dari diri gue? atau hal lainnya tentang sebab hubungan gagal.
Kalau memang gue pernah membuat kesalahan, maka gue belajar dari kesalahan itu dan jangan mengulangi lagi. Life must go on, dan gue yakin saatnya akan ketemu Ms. right.
Tetap jadi diri yang ceria dan menyenangkan. Tunjukkan semua yang terbaik dari diri ini. Jangan buang-buang waktu sama orang yang bahkan nggak bisa nerima apa adanya. Hidup cuma sekali, terus kenapa disia-siain sama orang yang bahkan nggak bisa melihat indahnya cinta.
Be Happy, cintai diri sendiri, maafin diri sendiri. Mungkin ini nggak akan mudah, tapi pada akhirnya gue akan nemuin orang yang benar-benar tepat buat gue. Lalu, gue isi dengan menangis dan berdoa kepada Tuhan. Luapkan semua kesedihan ke Dia. Kekuatan dan keberanian akan timbul dari sakitnya hati.
Gue nggak perlu memaksakan diri untuk melupakan seseorang yang gue cintai. Lepasin kesedihan dan terima semua. Izinin diri untuk ngerasa bersalah, sedih, nangis, curhat, dengerin lagu mellow, nulis dan lain-lain. Lama-lama pasti capek sendiri sama kesedihan dan siap untuk move on. Lakuin semuanya tanpa ada kontak dengan MANTAN. Cukupalah dengan mengontak TUHAN.
Hidup adalah kesempatan. Berdoalah, bukan hanya demi diri sendiri, tapi juga untuk mereka yang pergi meninggalkan. Jangan pernah pengalaman pahit mengubah gue jadi orang lain. Ketika saatnya datang, gue akan siap untuk kembali mencintai seseorang. Nggak perlu ngoyo mencari cinta, karena cinta yang akan menemukan gue. Gue juga nggak pernah tahu rencana Tuhan tentang jodoh. Jangan pernah sangsi akan Rahmat dan kasih-Nya. Semoga kita semua akan kembali mendapatkan kekuatan setelahnya. (*)


Previous
Next Post »