Kesaksian Seorang Jomblo Pada Pernikahan Teman dan Rencana Pernikahan Mantannya

ilustrasi kebahagiaan
23 Juni 2017, sahabat saya, Hendriansyah mengirimkan foto undangan pernikahan melalui whatsApp. “Oh dari sahabat lama,” guman saya. Ya, sebelumnya memang sudah tahu akan ada undangan yang dititipkan. Hampir satu tahun saya dan calon pengantin tidak bertemu, karena pekerjaan yang memang sudah membuat jarang kami bertemu.
Namanya, Tika. Dulu saya dan Tika kenal karena sama-sama kerja di media masa. Dia sempat berhenti dan menjadi honorer di Pemerintah Kota Bandar Lampung. Sementara saya masih menekuni profesi yang saya sukai, yakni dunia tulis menulis ini.
Tika akan dinikahi Dito, teman semasa kuliahnya di Yogyakarta. Kabar ini pun sudah lama saya dengar. Kabar yang menggembirakan, di usianya yang ke 27 tahun akhirnya Tika dipersunting sama orang Jawa asli. Pernikahan pun berlangsung dikediaman Tika di Bandar Lampung.
Pernikahan pun berlangsung pada 1 Juli 2017, tak jauh dari waktu lebaran idul fitri. “Hend, bareng ya. Lu nggak sama pacar lu kan,” kata saya pada Hendry dalam whatsapp. Hendri pun menjawab tidak. Akhirnya pun sepakat berangkat bareng ke resepsi Tika dan Dito. 12.15 waktu yang kita pilih untuk ke lokasi pernikahan, seusai shalat Dzuhur dan waktu makan siang.
***

1 Juli 2017, Pernikahan Tika dan Dito berlansung. Saya dari Kota Metro pada pukul 09.30, karena harus mengerjakan beberapa pekerjaan dulu. Hingga waktu menunjukan pukul 11.30 dan saya berusaha menghubungi Hendri untuk memastikan keberangkatan. Alhasil dia tidak jadi kondangan pada waktu yang telah disepakati. Dia bisanya sore. Sedangkan sore hari, saya harus bertemu relasi saya untuk membicarakan beberapa hal pekerjaan yang sudah telah direncanakan sejak lama.
Sampai pada waktu tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk berangkat sendiri. Sebenarnya, saya tidak seberani itu, menghadiri pernikahan sendirian. Saya itu kalau kondangan harus ramean, atau seenggaknya bawa teman.
Tapi pada saat itu, teman-teman saya lagi sulit dihubungi, karena masih suasana lebaran. Saya mencoba hubungi Shinta, sahabat saya juga. Saya, Hendri, Shinta, dan Tika sering makan es duren di Pahoman setelah lelah liputan. Tapi ketika beberapa pekerjaan mulai berbeda jalur, kami jarang untuk berkumpul seperti dulu.
Shinta saya hubungi, ternyata sudah dilokasi menjadi panitia. Berhubung Tika sahabat saya, saya pun harus berangkat meski dalam kondisi apapun, ya seperti halnya menjadi seorang jomblo yang tegar, seorang diri menghadiri pesta perkawinan.
Baru sampai di pagar ayu alias penyambut tamu, saya bertemu dengan teman lama, yang katanya mau nikah dengan teman saya juga. Ikol dan Keke. Ikol seorang pewarta foto, sedangkan Keke pewarta ekonomi. Ikol dengan lihainya memberikan bully-annya yang khas.

“Jomblo sendirian kondangan. Sedih bener. Cari geh, buruan, jangan nulis terus. Fokus kawin oy,” kelakarnya.
Keke pun tertawa lepas. “Mana geh pasangannya. Jangan ngomongin kita calon pengantin, kalau lu aja masih jomblo terus-terusan,” ejek Keke yang semakin puas di tengah keramaian orang bergandengan untuk masuk ke prasmanan sedangkan saya masih jalan sendirian.
“Sabar. Projec terakhir. Jomblo Traveler akan menceritakan semuanya, kenapa saya masih jomblo dan tentang pernikahan,” alibi saya kepada mereka.
“Dasar jomblo,” setelah meneriakan kata jomblo terakhir, mereka pun pergi pamit untuk pulang duluan.

Sedihya jadi jomblo. Pada pesta pernikahan saja datangnya sendirian. Belum lengkap penderitaan. Pada saat mengantri mengambil makan di prasmanan, saya pun kembali bertemu dengan seorang teman, namanya Leni. Sudah pasti perempuan.
            “Jomblo ya mas. Sendirian kondangannya,” dia menunjuk dan mengatakan kenaasan yang belum berakhir, dan dilanjutkan dengan tertawa kecil.
            Saya membalasnya tersenyum dan mengangguk. Hati mencoba tetap kuat dan tenang. Yang terjadi ini bukanlah akhir dari segalanya. Semua saya anggap adalah hal yang baik, untuk mengingatkan dalam hal menyegerakan.
            Saya pun cari tempat untuk menikmati hidangan. Tak butuh waktu lama, saya ambil makan hanya sedikit sekali. Saya pun melihat celah panggung pengantin sepi. Saya langsung pamit, dan menyalami pengantin, lalu sekedar menyapa dan selfie. Selfie penting bagi saya dihari itu, karena saya bisa mengukur kadar kualitas kekuatan saya untuk hadir dipernikahan seorang sahabat sendirian tanpa pasangan. “Selamat menempuh hidup baru Tika dan Dito.” Saya pun pamit pulang dengan senyum yang lepas. Sampai ketemu Shinta, saya pun masih sempak saling ejek-mengejek.
            Saya pulang dan akhirnya sampai dengan hati yang selamat.
***
           
Malam harinya. Sepulangnya dari pesta perkawinan Tika dan Dito, saya menerima pesan dari kawan semasa kuliah. Beberapa hal yang dibincangkan, termasuk tentang pengalaman saya hadir di pesta pernikahan kawan saya seorang diri.
            Obrolan pun berganti tentang seseorang di masa lalu saya. Di beberapa instagram story dan whatsappnya seperti hal yang menggemberikan, mantan seperti hendak dilamar seseorang. Apakah hal ini menjadi hal yang sedih bagi saya? Ada dua jawaban, bisa iya dan tidak.
            Ketika tahu mantan yang katanya pernah menjadi bagian yang disayang tentu sedih mendengar kabar tersebut. Setelah bertahun-tahun menemani masa kuliah dalam keadaan suka dan duka, saya mendengar kabar hendak dinikahi seseorang, dan orang itu bukan saya. Tapi sudah lama sekali, saya ikhlas. Hanya beberapa beban pada pikiran saya yang harus mengutarakan permohonan maaf kepadanya. Tapi belum bisa saya sampaikan secara langsung. Bahkan, saya berharap ada kesempatan untuk berbicara empat mata dengan mantan kekasih saya ini, sekedar meyakinkan diri, bahwa saya telah ikhlas, merelakan kepergiannya bersama yang lain.
            Tapi mendengar mantan kekasih saya ini mau menikah saya justru bahagia. Saya tidak mengutuk diri saya. Saya tidak mencaci maki dia. Ini kabar baik. Pada akhirnya datang seorang pria yang serius ingin meminangnya. Doa saya pun berlanjut, semoga benar dan semoga pria itu orang yang baik dan bertanggungjawab. Pastilah, seseorang yang memilih pada pernikahan adalah seorang yang serius dan bertanggungjawab. Tentu bertanggungjawab untuk bisa menghalalkan, dan tidak menjalin hubungan yang tidak semestinya.
            Kisah saya dan mantan di masa lalu memang kelam. Ada beberapa catatan buruk yang harusnya tidak terjadi, sebagai orang yang pertama mengenal cinta. Saya pada akhirnya menyesali pernah pacaran. Sampai penyesalan itu saya kini dikenal sebagai Presiden Jomblo, ya seorang jomblo traveler. Perjalanan seorang diri yang menjadi pengabdian, bukanlah pengabadian.
            Sama halnya dengan mantan kekasih saya ini, mungkin. Tapi setelah saya memutuskan hubungan, dia sempat berulang kali ganti pacar. Sedangkan saya masih betah sendiri dengan merefleksikan hati saya untuk tetap tegar dengan keadaan apapun. Semoga saya ikhlas selama ini.
            Saya menunggu-nunggu, kabar yang sebenarnya tentang rencana tunangan dan pernikahan dia. Tapi belum ada kabar baik. Saya tidak berani memulai pembicaraan duluan. Khawatir, saya disebut sebagai orang yang selalu kepengen tahu urusan orang lain. Saya tidak ingin juga menjadi benalu bagi hubungan mantan kekasih saya dengan calon suaminya tersebut. Sehari-hari saya berdoa, semoga mereka bisa menyegerakan. Menghalalkan kasih sayang mereka sah secara agama. Memaharkan pernikahan dengan sepatutnya. Hingga memiliki anak yang soleh dan soleha, serta langgeng hingga kakek dan nenek, bahkan sampai ajal menjemput. Sungguh, ketika saya berdoa ini, saya dalam keadaan yang sangat lapang tanpa beban dalam pikiran saya. Saya hanya mengawal mantan kekasih saya untuk bisa menjaga dirinya hingga pada akhirnya dijaga oleh kekasih halalnya. Selanjutnya, saya bisa memutuskan untuk ikut segera menikah. Dengan seseorang yang telah Tuhan takdirkan sebagai jodoh.
***

07 juli 2017, pada pukul 13.00 ada telepon masuk di handphone saya. Saya lihat, mantan kekasih saya menghubungi. Wah ada apa? Saya penasaran. Saya mengangkat dalam keadaan yang cemas. Setelah menerima telepon, suaranya pun datar.
            “Kamu lagi di mana?” tanya dia.
            “Lagi di rumah, kenapa?”
            “Kapan ke Karang?” tanya dia lagi.
            “Besok, kenapa?” kalimat kenapa ini terus berulang. Karena beberapa bait setelahnya dia seperti orang yang bingung mau bilang apa.
            “Sampai kapan, ada kerjaan?” tanya dia lagi.
            “Ada beberapa, tapi nggak banya. Kenapa?” saya tanya kenapa lagi berulang kali. Dia akhirnya bilang mau ketemu, dan saya pun menyanggupi pertemuan. Kebetulan ada hal yang ingin saya bicarakan.
            Dia pun mengatur janji, sore hari dan di salah satu tempat.
            Yang ada dalam pikiran saya saat ini adalah dia meminta izin atas niatan baik seorang pria yang mau melamarnya. Itu yang terlintas. Kenapa? Niatan baik harus disemogakan dengan cara yang baik. Sebaik-baiknya cara adalah mendoakannya.
            Kenapa tidak saya terlintas, bahwa pertemuan itu ingin kembali pada saya? Jauh sekali. Tidak terlintas sudah dalam benak saya. Saya paham karakter dia. Saya tidak berharap sejauh itu. Jauh-jauh hari telah saya ikhlaskan dia.
            Apakah saya bakal marah dan kecewa? Tentu tidak. Bukannya saya sudah mendoakan dia, agar bertemu dengan orang yang serius, baik dan bertanggungjawab. Sebaik-baiknya perasaan, adalah perasaan yang merelakan. Merelakan tidak butuh dengan ucapan, tapi mengaminkan segala tindakan yang baik yang dia lakukan. Semoga disegerakan.

Bersambung.....
Previous
Next Post »