Mencari Kesetaraan Hak Jomblo Dengan Traveling


Menjadi seorang jomblo itu tidak selamanya selalu merasa sepi sendiri. Tidak selalu dianggap sebagai nasib yang suram dan menakutkan. Kok bisa begitu? Belajarlah dari taman jomblo di Bandung.

Jomblo semakin populer. Sudah banyak virus-virus untuk memilih status sebagai seorang jomblo dari pada pacaran. Tidak ada lagi keraguan untuk berjalan sendiri dari pada berjalan berdua bertemankan setan. Eits, maaf ya.

Soal jomblo, begini kisah traveling saya selama ini.

Tepatnya pada akhir tahun 2016 lalu, saya mengunjungi Kota Bandung. Mampir ke sesuatu tempat, yakni taman yang lagi ngehits. Sebuah taman yang bernama taman Pasupati karena terletak di bawah jembatan layang Pasupati, Kota Bandung. Tetapi, lebih dikenal dengan sebutan taman jomblo.
Saat itu, saya datang sendiri, pas malam minggu. Anak-anak muda kreatif Kota Bandung saya lihat sudah berkumpul. Sekumpulan seniman pun memajangkan hasil karya seninya. Di sisi lain sudah banyak yang menebar senyum, warga-warga bercengkrama melepas lelah.

Beberapa cerita pun saya dengar dari anak-anak muda yang berkunjung di taman jomblo. “Dulu tempat ini kumuh mas, kotor, gelap, dan sepi. Kaya sebuah tempat yang angker lah. Serem,” kata seorang anak muda yang mengenalkan dirinya bernama Hamim dengan suaranya yang besar seperti perawakan tubuhnya.

Sekarang, semua orang bisa melihat bagaimana sebuah tempat yang kumuh, kotor, gelap dan sepi kini menjelma sebuah tempat yang memberikan kenyamanan bagi setiap orang yang mengunjungi. Meski, hanya sekedar berkumpul, bercerita, sampai sebagai tempat bermain skate board, dan memajangkan hasil karya seni.

Area taman memang tidak terlalu luas, hanya 30 meter persegi. Namun, taman jomblo dilengkapi banyak fasilitas berstandar internasional, baik berupa arena papan seluncur atau bahkan kursi yang panjang hingga bisa menampung banyak pengunjung untuk bersantai. Keberadaan taman jomblo dari mata yang menangkap begitu sangat dimanfaatkan sebagai ruang interaksi yang positif bagi kaum muda Bandung.
***

Perjalanan saya ke Bandung mengajarkan banyak hal. Pertama, sebuah taman bernama taman Pasupati, namun dikenal dengan sebutan taman jomblo, tidak membuat si taman sepi, seperti hati seseorang yang selalu merasa sepi ketika menjadi seorang jomblo. Oh tentu, tidak.
Artinya, menjadi seorang jomblo itu tidak selamanya selalu merasa sepi sendiri. Tidak selalu dianggap sebagai nasib yang suram dan menakutkan. Kok bisa begitu? Belajarlah dari taman jomblo di Bandung.

Seseorang memiliki nama masing-masing, misalkan saya Yoga Pratama, terus kalian ada yang bernama, Budi, Badu, Eni, Inu, dan Itu. Tapi, kalau menjomblo, kenapa dipanggilnya Mblo alias Jomblo oleh kebanyakan orang, terlebih teman yang sudah mengenal kita dekat. Lalu, haruskah kita marah dan minder. Tentunya tidakkan. Jadikanlah jomblo kebanggaan. Menjadi status yang asik untuk diperbincangkan. Menjadi status yang nyaman untuk semua orang. Dan jadikanlah jomblo sebagai status yang favorite di era milenia seperti saat ini.

Untuk itu, saya juga senang menghabiskan waktu saya dengan beberapa perjalanan, dari satu tempat ke tempat yang lain, belajar banyak hal, termasuk tentang memantaskan diri. Kepergian saya di Bandung, di taman jomblo juga  mengajarkan bahwa kita tak perlu mencari seseorang untuk dijadikan pacar. Tetapi bisa saja kita langsung mencari seseorang untuk dijadikan pendamping hidup. Kita tidak bisa dengan berdiam saja. Kita harus traveling, artinya melakukan perjalanan. Kita tidak pernah tahu? Di mana keberaadaan jodoh kita.


Akan tetapi, di suatu waktu, kita harus menetap, tidak perlu berjalan jauh. Bisa jadi jodoh kita ada di dekat kita, ada disekitaran yang sudah kita kenal. Karena, sejauh apapun mencari jika Allah berkhendak lain, maka takkan pernah kita bertemu. Setidaknya saya sudah berikhtiar melalui traveling saya selama ini. Dan akhirnya kembali pada sebuah halaman yang lebih menyenangkan, yakni rumah.
Previous
Next Post »