Catatan Seorang Jomblo Traveler

Perjalanan Pertama Sebagai Jomblo Traveler (1)


Awal Desember 2015. Saat gue memutuskan untuk berhenti dari profesi sebagai seorang jurnalis media cetak dan memulai dari nol sebagai travel blogger yang akunnya masih gado-gado, seperti kehidupan gue yang belum beranjak pada pelaminan.
Perjalanan gue menjadi seorang traveler memang tidak selama perjalanan sebagai seorang jomblo. Perjalanan pertama sebagai seorang traveler pun di mulai dengan motivasi untuk menuntaskan sebuah tulisan untuk dijadikan novel secara self publishing. Menjadi seorang yang lebih suka kesendirian dengan latar alam yang bebas. Mengheningkan suasana hati dan pikiran untuk bisa berpikir lebih realitis tentang apa yang akan ditulis. Di saat itu saya menasbihkan diri untuk menjadi jomblo traveler. Mencatatkan diri dalam sebuah perjalanan sebagai seorang jomblo. Kalau orang-orang bilang, gue ini jomblo yang suka ngabisin waktu jalan-jalan tanpa pasangan. Ya, tentu benar, gue nggak punya banyak uang untuk bisa ngajak pasangan jalan-jalan, alternatifnya ya jalan-jalan sendirian.
Akun blogger pun dibuat dengan domain www.jomblotravelers.com dan sekarang gue benar-benar seperti orang yang dikutuk menjadi seorang jomblo. Dan melalui blog inilah gue mulai merefleksikan diri lebih banyak, kenapa jomblo adalah pilihan yang bahagia sebelum adanya pernikahan? Dan kenapa menjadi seorang jomblo lebih membanggakan dari pada orang yang berpacaran? Kenapa? Alasannya akan kalian temukan ketika kalian benar-benar membaca buku ini dengan baik.
Refleksi tentang jomblo gue dapatkan dalam setiap kali ngetrip ke berbagai tempat sendirian. Jikalaupun pergi ramean, selalu sama teman cowok. Tapi tenang, gue normal, masih suka sama perempuan. Gue bukan homo. Ya, meskipun, pernyataan homo kerap terlempar ke diri gue. Cukup ketawain aja, karena orang-orang yang berkata tak semestinya hanya ingin membuat lelucon karena mereka adalah orang-orang yang kesepian.
Gue jadi ingat tentang kisah seorang teman tentang kejombloannya. Jadi, gue sewaktu SMA punya teman. Namanya, Chaidar. Dia memang paling nggak suka sama cewek yang terlalu over. Berhubung gue dan dia saat itu sekolah SMA di swasta dan nggak elit-elit amat sekolahannya. Jadi wajar kalau di SMA banyak cewek-cewek sikapnya over sama cowok. Ada juga yang biasa aja, tapi beberapa, bisa dihitunglah.
Chaidar selalu menghindar kalau ada seorang cewek yang suka sama dia. Ini bukan berarti dia homo. Dia nggak homo. Dia suka perempuan. Sekarang dia sudah menikah. Menikah tanpa pacaran. Tapi sebelum sampai pada fase pernikahan, Chaidar adalah seorang laki-laki yang kerap dicap homo. Sampai-sampai banyak kaum gay yang berusaha mendekatinya.
“Yog, lu kenal nomor ini nggak?” Chaidar saat itu dalam posisi bingung, ada banyak nomor yang ia nggak kenal mengirimkan pesan mesra. Bahkan, pernah beberapa kali dia ditelpon seorang cowok dengan nada manjanya. Asli, kata Chaidar, saat dia nyuruh gue ngebayangin seorang cowok berbicara manja dihadapan gue, itu jijik banget. Sampai-sampai kawan gue ini ganti nomor berulang kali.
“Nggak, kenapa?”
“Tau nih sms melulu. Mana sok manis lagi,” jawabnya.
“Cowok lagi ya.”
“Nggak tau, gue nggak cek,” kata dia.
“Sini gue coba telepon pake number privat,” gue menawarkan diri untuk mengecek siapa yang kerap menelpon Chaidar.

Saat itu juga gue langsung ngubungin itu nomor yang ada di kotak masuk Chaidar.
“Halow,” suara cowok yang begitu sangat manja terdengar.
“........” gue tahan ketawa. Langsung gue loudspeaker supaya Chaidar dengar.
“Halow, ini siapa..” makin suara yang menjijikan gue dengar dan langsung gue matiin telepon.

Muka gue mendadak bego. Ternyata cerita Chaidar itu bukan cerita abal-abal. Saat itu juga gue tahu bahwa ada beberapa kelompok yang hidup di dunia ini. Pertama, kelompok pecinta lawan jenis, dan kedua kelompok pecinta sesama jenis.
Pecinta lawan jenis itu teramat biasa gue saksikan. Gue termasuk pada golongan yang menjadi pecinta lawan jenis. Bahkan, saat SMA gue termasuk golongan yang boros, karena bolak-balik harus gonta-ganti pasangan. Masa-masa SMA benar-benar menjadikan gue sebagai orang yang sedang berpetualang karena cinta, mengenal karakater seorang perempuan dengan jalinan asmara. Ketika tahu doi adalah perempuan yang menyebalkan, langsung deh tinggalin. Sungguh kejam emang.
Jadi saat SMA gue nggak sempat merasakan apa yang Chaidar alami. Digoda laki-laki. Dan itu adalah hal yang menggilakan sekaligus menggelikan. Entah apa yang gue bakal lakuin kalau ngalamin apa yang dialami Chaidar. Entah kaya mana jadinya saat itu gue ngadepin laki-laki yang mencintai sesama jenis. Sementara, Chaidar cuek dan biasa saja. Karena dia merasa tidak seperti yang mereka bayangkan. Chaidar berjalan seperti apa yang ia bisa lakukan seperti biasanya. Jika memang mengganggu, dia akan ganti nomor handphone.
Dan kini, Chaidar sudah menikah. Sudah punya satu anak dari istri yang ia nikahi satu tahunan lebih. Saat keduanya sama-sama lulus dan sudah memiliki pekerjaan. Chaidar menemukan seorang wanita yang bisa diajak serius tanpa harus menyibukan diri pada masa pacaran. Ia juga tidak menunggu menjadi mapan untuk menuju pelaminan.
Mungkin gue adalah seseorang yang telat menjadi seorang jomblo yang teguh. Sampai akhirnya bisa menasbihkan diri sebagai jomblo traveler. Berani memulai segalanya dengan kesendirian. Memastikan bahwa apa yang gue putuskan empat tahun silam untuk putus dari pacar yang sudah terjalin empat tahun lamanya bukanlah hal yang sia-sia.

Hari ini, gue percaya, bahwa menjadi seorang jomblo adalah pilihan yang tepat. Dan gue siap melanjutkan perjalanan empat tahun silam untuk teguh menjadi seorang jomblo dengan status jomblo traveler sampai akhirnya pelaminan bisa gue duduki. 
Previous
Next Post »