Tuhan Tidak Merestui Mereka di Masa Lalu. Tetapi, Tuhan akan Merestui Dia di Masa Depan

Siapa nama seseorang di masa lalu?....................................................................................
Ciri-ciri seseorang yang pernah menjadi masa lalu dan sulit dilupakan..........................................................................................................................................................................................................................................................................
Ciri-ciri seseorang yang diinginkan menjadi masa depan?...............................................................................................................................................................................................................................................................................
Bagaimana kisah pertemuan dan perpisahan yang pernah di alami..............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Ada banyak cara Tuhan untuk mempertemukan dan memisahkan seseorang. Dengan caranya yang baik, petunjuk yang baik, dan bahkan untuk suatu tujuan baik. Termasuk dengan masa lalu yang telah pergi meninggalkan.
*

Sepanjang perjalanan. Pertemuan dan perpisahan silih berganti hadir menjadi penghias. Pertemuan dan perpisahan yang hadir diharapkan dapat dijadikan pelajaran bahwa akan ada kehilangan seusai perjalanan panjang dalam menemukan seseorang yang dikagumi atau bahkan dicintai.
Kehilangan merupakan titik nadir yang jika ditanggapi dengan salah, maka salah juga jalan yang dipilih. Pada akhirnya, kehilangan membuat kebanyakan orang sebagai jurang perpisahan yang paling menakutkan. Terlebih, tentang keyakinan hati seseorang, pacaran lama, tapi tak kunjung menikah, yang ada justru putus di tengah jalan. Tak dipungkiri itu juga yang menjadi keraguan saya, dan keraguan anak muda pada generasi Y ketika membicarakan tentang jodoh.
Inilah yang saya temui selama ini. Bahkan juga merasakan hal yang sama. Pertanyaan sederhana? Kenapa anak zaman sekarang banyak ragunya jika berbicara tentang jodoh? Ada banyak pertanyaan klise yang pernah saya dengar. Termasuk pertanyaan-pertanyaan yang pernah saya tanyakan. Apakah jodoh harus dilalui dengan pacaran? Bisakah mengenal seseorang, lalu menikah tanpa menjalani hubungan pacaran? Siapa yang bisa membangun komitmen bersama, kalau kita aja nggak tahu siapa orangnya yang akan kita ajak menikah?
Bagaimana saat saya berputus asanya di masa lalu. Sampai akhirnya, pertanyaan kapan menikah pun bukan hadir pada orang lain, melainkan pada diri saya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan berupa, bisakah menikah tanpa menjalani hubungan pacaran bisa saya lalui, dan siapa orang yang bisa membangun komitmen itu? Dan masih adakah orang-orang seperti itu.
Seiring perjalanan. Setelah menikmati perjalanan panjang patah hati dan memilih menempuh jalur kehidupan dengan predikat jomblo sejati, saya seperti orang yang sadar terlambat. Semua alibi saya tentang pacaran kini mentah semua. Proses berakhir hubungan dengan sebuah luka dan patah hati seperti cara Tuhan menyadarkan saya.
Memang tak seharusnya mencintai manusia secara berlebihan itu benar adanya. “Tuhan tidak merestui mereka di masa lalu. Tetapi, Tuhan akan merestui dia di masa depan.” Artinya, semua yang telah berlalu itu adalah masa lalu. Apapun bentuknya, mereka adalah sesuatu yang belum direstui oleh Tuhan. Hingga saatnya tuhan merestui seseorang dengan status pernikahan di masa depan.
Masa depan, kapan? Di saat keduan insan, laki dan perempuan meletakan janji suci untuk hidup bersama dalam status pernikahan. Bisa saja hari ini, besok, dan di lain waktu ketika keduanya siap. Dengan siapa? Biarlah semua menjadi rahasia-Nya. Setidaknya seseorang telah berikhtiar, mencari pasangan tanpa harus berpacaran.
Sanggupkah?
Ada cerita seorang kawan. Seorang laki-laki yang duduk di bangku perkuliahan semester 2, management informatika. Saat itu dia datang, entah meminta restu, atau hanya bisa disebut sebagai curhatan. Dia sedang jatuh cinta. Tapi ia tahu dengan batasan-batasannya sebagai seorang muslim. Ia tak harus memiliki saat itu juga. Jika dirunut, kisahnya berbanding terbalik dengan saya. Kalau saya, siapa yang saya suka, harus saya dapatkan saat itu juga. Setidaknya saya sudah berproses untuk memiliki.
Kawan saya tersebut bercerita, bahwa ia menyukai seorang perempuan yang ada di kelasnya. Seorang perempuan berhijab standar seperti perempuan hijab lainnya, tapi tidak pernah mengenakan pakaian ketat, semua serba syar’i. Ibadahnya sangat rajin. Shalat dan puasa sunahnya pun rutin. Rona wajahnya bercahaya. Siapa yang tak jatuh cinta ingin memiliki wanita seperti ini. Lagi pula si perempuan salah satu mahasiswi yang cerdas di kelas. Kalau teman saya biasa mendapatkan peringkat pertama, si perempuan peringkat dua, begitu sebaliknya, soal prestasi keduanya saling kejar-kejaran.
“Kalau saya menikah masih kuliah begini, gimana menurut lo mas bro?” mendengar kalimat seperti itu sumpah saya terkejut. Tidak pernah menyangka sebelumnya, di usianya yang muda, dan masih semester 2 sudah meniatkan diri untuk menikah. Jujur, pemahaman saya saat itu tak sampai pada pernikahan saat duduk dibangku perkuliahan. Yang saya tahu hanyalah kuliah, dan memenuhi kebutuhan kuliah dengan menjalankan beberapa usaha agar bisa makan dan bisa hidup di ibu kota yang membuat saya harus ngekos.
“Eh, serius, sama Yuli. Gila lo? Gue aja nggak kepikiran sebagai senior lo di kampus ini nikahin anak orang saat ini juga! Waduh kesambet lo ini?” celetuk saya saat itu dengan ekspresi kaget. Saya masih dalam keadaan yang benar-benar nggak percaya dengan apa yang disampaikan kawan saya itu.
Berbagai macam penjelasan dan cerita terus disampaikan kawan saya ini. Intinya, dia jatuh cinta kepada seseorang yang dianggapnya adalah wanita yang diimpikannya. Soleha dan pintar. Namun, masalahnya ia yakin, perempuan tersebut tidak akan mau di ajak pacaran. Meski, selama ini dalam mengerjakan tugas kampus, dan mereka selalu dipertemukan dalam satu kelompok yang sama. Bahkan, teman-temannya mengakui kedekatan mereka. Teman saya pun tak berani sejauh itu untuk memutuskan berpacaran.
Saya menyarankan hal yang menjadi keinginannya untuk menikah itu disampaikan kepada kedua orang tuanya. Ia pun sampaikan. Dan apa yang terjadi? Orang tuanya kaget dengan apa yang ia sampaikan. Teman saya ini tidak diizinkan untuk menikahi perempuan yang ia sukai itu untuk secepat itu. orang tuanya mengizinkan, asal keduanya sudah sama-sama lulus kuliah. Setidaknya beban tidak terlalu berat dipikul, seperti itulah yang saya ketahui.
Dengan akal sehat, teman saya pun menerima beberapa penjelasan kedua orang tuanya. Hari-hari berlangsung seperti biasa. Tapi, apa daya, cintanya memang harus sebatas kekaguman. Perempuan yang ia sukai itu, berselang waktu empat bulan dari apa yang menjadi keinginannya harus dimiliki orang lain. Ia dinikahkan pengusaha konter handphone yang tak jauh dari kampusnya mengemban pendidikan.
Ya, perempuan itu dinikahkan seseorang pria yang saat itu berusia 25 tahun. Usia yang matang bagi laki-laki. Pertemuan beberapa kali, sebatas mengisi pulsa, sampai akhirnya si lelaki tersebut mengajukan sebuah proposal pernikahan kepada kedua orang tuanya. Menikahlah keduanya.
Dan bagaimana dengan teman saya? Frustasi berat. Pasti, sesuatu kehilangan yang tanpa dihendaki itu bakal menyakitkan. Meski belum memiliki, teman saya ini merasa bahwa ia telah benar-benar jatuh cinta kepada perempuan tersebut.
Saya tak biasa melihat dia merokok. Tapi setelah mendengar kabar, seseorang yang dicintainya menikah, ia pun tak sungkan untuk merokok. Ia kebut-kebutan di jalan. Bahkan, sampai pagar pembatas parkir di kampus ia tabrak juga. Minum air bersoda yang berbeda warna ia oplos jadi satu. Sangking frustasinya. Untung saja, tidak terjadi apa-apa dengan kawan saya ini.
Kejadian tersebut tidak berlangsung lama. Ia pun sadar. Ia lari ke masjid, berwudhu, shalat sunah, dan berdiam diri. Menenangkan dirinya. Mencoba mengikhlaskan. Berpikir yang positif. Pada akhirnya ia pun merelakan.
Sebuah kisah yang menjadi catatan pada diri saya. Ketika kehilangan bisa menjadikan seseorang segila tanpa disadari logika. Sungguh mengerikan. Bagaimana yang sudah berpacaran lama, lalu ditinggalkan. Pacaran sudah seperti kredit motor sampai 3 tahun, bahkan 4-5 tahun, tapi ketika saatnya menikah, pacar kita menikah dengan orang lain. Sungguh, Tuhan belum merestui mereka, meski dengan cara apapun kita mencoba untuk mendapatkannya.
Seperti kisah teman saya lainnya, dia adalah seorang perempuan, tak layak memang jika harus diceritakan. Tapi ini adalah ketakutannya. Saat itu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Di SMA saat itu, tingkat kelabilannya masih naik turun, dan logikannya masih tampak pendek.
Bagaimana tidak, saya lagi santai di rumah. Tiba-tiba handphone berdering berkali-kali. Teman saya ini, seorang perempuan yang sekolahnya bertetanggaan dengan sekolah saya nangis-nangis. Di telepon, nangis-nangis. Bingung saya, tapi saya sudah berpikir telah terjadi hal yang tidak meyenangkan pada dirinya.
Ternyata benar. Ia baru saja ditinggalkan pacarnya. Kebetulan mereka pacaran beda agama. Karena merasa cinta, tapi beda agama dan takut ditinggalkan atau tidak direstui orang tuanya, maka ia menyerahkan seluruhnya kepada si lelaki. Termasuk mahkota terakhirnya sebagai perempuan.
Tapi apa balasan si lelaki itu. Sebulan kemudian justru meninggalkan perempuan ini. Sungguh, membuat nalar saya saat itu tidak berpikir jauh ke sana. Saya yang terlalu polospun akhirnya harus mendengar curhatan yang tidak seharusnya terjadi pada anak SMA.
Perempuan itu pun frustasi. Ia tak pernah menyangkan akan terjadi seperti itu, yang ia ketahui adalah karena rasa cintanya yang besar. Ia kecewa, marah pada dirinya sendiri. Meski tak hamil, ia malu kepada Allah telah berbuat hal tersebut. Ia pun bingung, bagaimana nanti suaminya bertanya tentang mahkotanya. Sepanjang perjalanan, ia pun pindah dari Lampung ke Jakarta. Ia kini terlihat lebih tenang, ia sudah mengikhlaskan kejadian di masa lalunya.
Sungguh, Allah punya banyak cara agar seorang manusia teguh pada pendiriannya. Bagaimana Allah menyadarkan seseorang dari bahayanya ingin memiliki yang belum pantas kita miliki, dan seruannya untuk memiliki dengan cara yang tepat dan baik.
Maka, tak salah saat itu, banyak orang yang memilih sebagai seorang jomblo. Jomblo bukanlah nasib, single belum tentu pilihan. Karena, jomblo dan single adalah keharusan. Intinya ketika siap maka menikahlah. Jadi apa yang harus diperdebatkan. Jika benar single itu pilihan, maka begitu juga dengan jomblo, dan pacaran juga bukan suatu keharusan.

Ingat bahwa, Tuhan tidak merestui mereka di masa lalu. Tetapi, Tuhan akan merestui dia di masa depan. Terus berikhtiar sampai diri kita disebut sudah pantas. (*)

baca juga 

1. MELIHAT MANTAN JALAN DENGAN PACAR BARUNYA

Previous
Next Post »