Tanda-Tanda Allah Meluruskan Niat Seseorang Untuk Menikah

Semua yang terjadi, Allah telah mengaturnya - Assalamualaikum (السلام عليكم as-salāmu 'alaykum) 


Subahanallah, satu per satu tanda-tanda itu datang menghampiriku.
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21].

Sebaiknya kuceritakan....
Saat itu, tepat di usia ke 25 tahun aku terlahir di bumi sebagai seorang laki-laki. Allah memberiku tanda-tanda yang begitu luar biasa. sesadar-sadarnya, dan sebagai makhluk yang berpikir, sungguh aku malu jika niatku tak diluruskan. Bukan malu kepada tetangga, dan teman sejawat, ataupun orang-orang lain yang baru aku kenal. Melainkan, malu terhadap Allah yang telah menjamin semua hidup seorang mukmin di dunia. Hingga akhirnya, ia harus kembali berpulang.

وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةًۭ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ۚ أَفَبِٱلْبَٰطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ ٱللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ
‘Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” [QS. An Nahl (16):72].

Bukankah Allah telah menjelaskan sejelas-jelasnya...
Benar. Aku meyakini kebenaran itu. Tiada satupun ayat Allah yang turun di bumi ini aku pungkiri. Begitu juga dengan tanda-tanda yang Allah turunkan untuk mengingatkan hambanya kepada salah satu tiang meningkatkan keimanannya, yakni pernikahan.

Sebaiknya kumelanjutkan cerita ini..
Di usia 25 tahun. Ada seorang teman datang menghubungi. Meminta bantuan atas buku yang telah ia terbitkan. Judulnya “Menjemput Hidayah”. Dengan semampunya aku membantunya ke toko buku untuk bisa dikenalkan kepada publik. Begitu yang lainnya, mempersiapkan waktu dan bagaimana melaunching buku tersebut. Dan kawan ini pun memintaku untuk menjadi moderator atau pemandu acara launching bukunya.
Maha besar Allah, di tengah kondisi yang memperihatinkan untuk menjelaskan diri pada sesuatu hal. Di saat itu seperti teguran pertama. “Menjemput Hidayah” termasuk di dalamnya adalah perintah menikah dan menghindari zina. Setidaknya walaupun diri merasa bersih dari zina, namun alangkah baiknya memang jika menghindari perbincangan orang tentang diri ini ketika di usia yang sudah cukup namun tak menyegerakan diri dalam pernikahan.
“Menjemput hidayah” buku yang mengingatkan saya kepada kebesaran Allah. salah satunya adalah
وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”  [QS. Adz Dzariyaat (51):49].
Saat itu juga...
Di dalam diri ini memang sudah meyakinkan, harus siap dalam kondisi apapun, tidak boleh lagi bersantai ria, menikmati hidup semaunya. Karena dalam hidup ada tujuan-tujuan. Dan kini di usia 25 tahun apa tujuanku? Pada akhirnya memang aku lebih dulu memuliakan diriku, dan memuliakan perempuan yang menjadi pendampingku kelak.
Menjadi sebuah alibikah. Oh tentu tidak. Meski banyak yang membully tentang kenapa aku masih saja sendiri. Sebagian orang takkan paham, kenapa ini masih kujalani. Setidaknya hinaan demi hinaan yang mengatakan aku adalah laki-laki yang tak laku atau mungkin aku adalah pria homo, aku tanggapi dengan senyum. Semua orang kuanggap berhak mengatakan seperti itu. Karena memang memilih sendiri itu bukanlah pilihan di usia seperti ini.
Namun, setidaknya aku tengah berdoa kepada Allah. Memohon dan meminta restunya. Sedikitnya aku berdiskusi dengan kedua orang tuaku. Tentang kesiapan dan persiapan. Menikah bukan hanya untuk diriku saja. Bukan juga untuk keluargaku. Atau bukan untuk berdua aku dan pasanganku. Tapi punya dua keluarga besar, baik dari keluargaku dan keluarganya, begitu juga tentang anak-anak yang akan menjadi masa depan aku dan pasanganku kelak.
Akhirnya, dari proses berpikir, bahwa buku “Menjemput Hidayah” adalah pintu awal untuk meyakinkan diri. Selang waktu berjalan. Teman-teman juga terus mengingatkan. Salah satu sahabat kini tinggal dan bekerja di Jakarta juga terus mengingatkan usia.
“Sudah buruan lagi. Masih mau nunggu yang mana? Bukankah tinggal dipilih? Jangan kebanyakan memilih? Kapan mau menikahnya?” sekiranya kalimat tersebut yang masih kuingat keluar dari bibirnya setiap saat bertemu denganku. Bahkan, dalam komunikasi telepon pun sahabatku ini selalu mengingatkan.
Sampai pada waktunya, beberapa waktu sebelum ia benar-benar menetap di Jakarta aku mengatakan kemantapan hatiku untuk segera mengakhiri masa lajang ini. Dan kuminta ia juga membantu kelancaran dalam setiap doa-doa yang ia panjatkan kepada Yang Maha Kuasa.
Teman-teman yang lain apalagi. Mendengar niatan yang kuluruskan tentang pernikahan itu seperti kabar kebahagiaan. Aku menilai, kebahagiaan ini memang bukan hanya milikku saja. Melainkan milik mereka yang juga tengah cemas jika aku terus saja memilih sendiri.
Allah mengingatkan pernikahan pun dari mereka. Aku adalah orang yang habis-habisan kena bully setiap ada perbincangan tentang pernikahan. Subahanallah, bullyan mereka membuat aku semakin kuat dan kokoh kini dalam memantapkan hati pada sebuah pilihan, yakni, pernikahan.
Seiring berjalan. Teman yang memintaku untuk memandu acara launching bukunya pun mengajakku untuk ikut pengajian Ust. Syafiq Riza Basalamah MA. Lokasinya di Lampung Utara. Kajian akbar yang dihadiri ratusan bahkan nampaknya ribuan umat muslim. Subhanallah lagi-lagi Allah seperti mengingatkan pernikahan. Ditakdirkan dan dijalankan niatan saya untuk ikut di acara Ust. Syafiq. Dalam kajiannya juga ia angkat ihwal pernikahan. Bahkan, dari awal mengenal hingga sebuah mahar dan pasca menikahpun ia bahas. Dari kajian tersebut, aku meyakini bahwa memang ini adalah rencana Allah dalam mengingatkan hambanya melalui banyak pintu pertemuan.
Dan yang terakhir adalah, entah bagaimana ceritanya, memang aku tengah mengupayakan agar salah satu penulis Lampung bisa juga melakukan bedah buku di Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung. Hingga akhirnya diteruskan oleh seorang kawan, dan di acc untuk dilakukan bedah buku.
Tidak lama dari proses yang panjang. Entah siapa yang mengusulkan, pihak perpustakaan menghubungiku, memintaku untuk menjadi moderator dalam bedah buku yang dilaksanakan di Perpustakaan Daerah milik Provinsi Lampung. Lagi-lagi ini seperti yang telah direncanakan oleh Allah kepada hambanya.
“Menuju Keluarga Hafidzul Qur’an” seolah memberikan arah dan contoh cara yang baik dalam membangun keluarga yang bisa menjadi penghapal Quran. Buku yang telah direvisi beberapa kali ini pun saya baru membuka dan pertama yang terlihat adalah tulisan “Meminta Jodoh yang Seiman” tentang kesiapan dalam bertemu seorang jodoh dan kesiapan apaun bentuknya yang dipertemukan. Benar aku tak berani berkata-kata lagi. Semua seperti telah disusun secara rapih oleh sang pemberi hidup dan mati.
Selain itu, si penulis pun sudah menyiapkan doorprize-nya. Bukunya pun ihwal pernikahan. Sungguh, apakah ini telah direncanakan seorang manusia. Atau disengajakan sendiri olehku. Nampaknya tidak. Ini seperti tanda-tanda sang kuasa untuk aku meluruskan niat sebagai seorang laki-laki.
Setidaknya Allah telah mengirimkan tanda-tandanya, kini aku tengah mempersiapkan diri dari segala apapun. Termasuk rezeki jodoh yang akan dihadapkan Allah, semoga bisa menyegerakan diri atas tanda-tanda yang telah dikirimkannya. Bismillah.
Previous
Next Post »

1 komentar:

Click here for komentar
Neny Suswati
admin
5 May 2017 at 18:18 ×

Begitulah jika Allah menuntun hamba-Nya, begitu runut, Alhamdulillah.

Congrats bro Neny Suswati you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar