Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

net
-sehimpun puisi pilihan Joko Pinurbo

Selamat menunaikan ibadah puisi, salah satu buku puisi milik Joko Pinurbo yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama yang akhirnya kuputuskan untuk membelinya. Sebagai refleksi bahwa akhir-akhir ini aku merindukan puisi. Merindukan berkumpul dengan sehimpun manusia yang juga mencintai puisi. Di kota ini puisi menjadi masa lalu yang sulit aku temui peraduannya. Semua menjadi kata yang berserak, tanpa ada satu manusia yang berhasil menyusun dan mengumpulkannya kembali.
Sebelum membahas lebih jauh tentang puisi-puisi pria yang disebut Jokpin tersebut. Sekedar bercerita bahwa, beberapa kali terakhir mondar-mandir di Toko Buku Gramedia Tanjungkarang. Tujuannya hanya sekedar membaca dan melihat koleksi baru di daftar rak buku yang berisikan novel dan karya sastra lainnya. Apalah daya, kata hati tertarik juga untuk membeli. Buku sudah seperti kekasihku. Terlebih kalau aku pergi sendiri. Godaan seorang wanita masih bisa kalah, dari pada godaan buku-buku.
Untuk barisan novel tampaknya tidak ada satupun buku yang minat aku beli. Berpindah, dan masuk ke barisan rak buku yang meletakan cerita pendek dan sehimpun puisi. Bulan lalu, baru saja kubeli buku W.S Rendra apa yang telah ia tulis menjadi puisi-puisi cinta. kini sehimpun puisi milik Jokpin pun aku angkut bawa pulang.
Buku Pakde Joko sebenarnya sudah lama berada di Gramedia. Hanya saja baru ada kesempatan ini untuk membelinya. Karena, baru serius dan konsentrasi membaca bab per bab yang sempat kurobekan pelastik pembungkus yang ada di rak buku,”maafkan aku, padahal sudah jelas tidak boleh merobek pelastik pada buku-buku di dalam rak tersebut,” hanya sekedar memastikan, bahwa memang buku Pakde Joko menarik untuk dimiliki.
Sampai akhirnya aku pun membelinya. Bagaimana tidak, puisi yang ditulis pria kelahiran Pelabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962 tersebut sangat renyah dan berisi. Mata dan pikiran sama-sama sepakat bisa menikmatinya. Puisi yang memiliki paduan antara naratif, ironi refleksi diri, dan bahkan kata-kata yang berunsur kenakalan berhasil ditulis Pakde Joko dengan cukup halus.
Wajar saja, lulusan dari jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta ini juga pernah menerima anugera dari Khatulistiwa Literary Awards kategori puisi melalui bukunya, kekasihku.
Semakin tak asing memang bagaimana Joko mengolah kata yang begitu renyah, namun tetap kepuitikan puisi masih terasa kental pada setiap puisi yang ia tulis. Ia memang penikmati puisi, tak hayal, aku berpikir judul selamat menunaikan ibadah puisi juga adalah kerinduannya.
Di usia 20-an itu memulai menulis puisi dan pada saat remaja pun ia kerap membaca puisi-puisi. Ia juga pernah bekerja di perusahaan penerbitan, dan menjadi tenaga ajar ditempatnya berkuliah.
Pada saat melihat bagian belakang cover puisi, dengan sederhana sepenggal puisi yang dijadikan latar cover pun menarik untuk dinikmati puisi-puisi Pakde Joko ini.

*Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma.
Sepenggal kata pada puisi yang tertulis tampil begitu sederhana, tapi memiliki keindahan untuk dinikmati.

Selengkapnya, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.

Dari kamar mandi
yang jauh dan sunyi
saya ucapkan
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.

Sabda sudah menjadi saya.
Saya akan dipecah-pecah
menjadi ribuan kata dan suara.

Tubuhku kenangan
yang sedang
menyembuhkan lukanya sendiri.

Menggigil adalah menghafal rute
menuju ibu kota tubuhmu.

Lupa: mata waktu yang tertidur sementara.

Tuhan yang merdu,
Terimalah kicau burung dalam kepalaku.

Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma.


Masih banyak puisi-puisi lainnya. Joko berhasil membuat suprise kepada pembacanya. Bagaimana tidak, sebagai orang yang awam di dunia puisi, atau yang tidak bisa menikmati, pembaca akan bingung dengan puisi-puisi Pakde Joko. Bagaimana bisa ia menulis puisi seperti menulis cerita pendek, yang teramat panjang, tapi masih bisa dinikmati dengan seksama.
Seperti puisi yang berjudul liburan sekolah, ia menulis bisa sampai 7 halaman. Menitihkan kata-kata puitiknya dengan begitu fokus. Begitu juga di puisinya Laki-laki tanpa  celana. Bagaimana bisa? Joko Pinurbo bisa dan berhasil melakukannya.
Selain itu, Joko Pinurbo pun kerap membuat puisi yang teramat pendek. Puisinya yang berjudul “kepada puisi” hanya satu baris yang bertuliskan: kau adalah mata, aku air matamu. Puisi yang singkat, namun punya banyak pemahaman, menurut saya, Joko Pinurbo menyeolahkan puisi adalah mata yang menuliskan tentang kesedihannya. Penafsiran lainnya adalah, Joko Pinurbo menuliskan apapun yang ia lihat dan menjadikannya sebuah puisi untuk bisa melihat dan dilihat oleh yang lainnya, setidaknya sama-sama bisa dinikmati keindahannya, meski keindahan itu ditulis dalam rupa kesedihan.
Selain itu, juga ada puisinya yang berjudul Bangkai Terindah: rumahku keranda terindah untuknya. Puisi pendek yang ia tulis pada tahun 2007 ini pun memiliki banyak penafsiran, namun tetap saja bisa dinikmati dengan hikmat. Joko Pinurbo seolah berteka teki dengan dirinya sendiri, dengan apa yang ia alamai, dengan apa yang ia dengar, lihat, rasakan, ucapkan, bahkan, yang ia tak sama sekali melihat dan mendengarnya sekalipun. Joko Pinurbo menuliskan puisi yang mencampur antara realitas dengan impian. Intim dan seperti menuliskan parodi dari tradisi-tradisi puisi yang ada di Indonesia, semoga kita semua bisa berkarya seperti Pakde Joko Pinurbo.


Previous
Next Post »