Sejarah Air Terjun Putri Malu, Way Kanan

-Dari Bertemu Bidadari, Hingga Meminta Korban
 
Salah satu pose terbaik saya selama di air terjun Putri Malu. Pria si malu-malu.
Ada banyak versi tentang sejarah air terjun atau curug yang berada di Bukit Duduk, Kampung Jukuh Batu, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan. Air terjun yang masuk di dalam kawasan hutan lindung register 24.


Air terjun itu kini dikenal dengan air terjun putri malu. Sebenarnya apa yang melatarbelakangi air terjun tersebut dinamakan sebagai air terjun putri malu. Berikut hasil reportase saya dengan salah satu mantan kepala kampung setempat, yakni Pak Daruni (51).

Menurut versi Pak Daruni, asal muasal penamaan air terjun putri malu tersebut berawal dari mimpi-mimpinya. Ia akui, memang air terjun sudah ada sejak zaman dahulu. Cerita pun hanya sebatas turun menurun. Namun, untuk penamaan belumlah ada. Karena saat itu juga air terjun belum begitu familiar seperti saat ini. Dan air terjun tersebut sepi pengunjung, bahkan warga setempat pun jarang mengunjunginya.

Masih berdasarkan keterangan Mantan kepala kampung yang pernah duduk pada tahun 1998 sampai 2003 silam itu. Pak Daruni mengaku pada tanggal 6 Juli 2000 ia bermimpi didatangi 40 bidadari. “Katanya, kami (warga) dan termasuk saya bertempat tinggal di curug bukit duduk. Nah, tapi saat itu namanya ini belum ada. Saya jadi penasaran, dan ingin membuktikan mimpi saya itu. Apakah benar ada curug,” katanya yang juga mengatakan bahwa sejak saat itu sebagian besar wargapun tidak ada yang tahu tentang keberadaan air terjun tersebut.


Hingga pada akhirnya, Pak Daruni menggali pertanyaan dari tetua kampung tentang mimpinya tersebut. Karena pada mimpinya, ia diperlihatkan ada dua curug yang indah. Dan berdasarkan informasi tetua kampung memang dibenarkan, bahwa ada sebuah curug yang indah di mana lokasi tersebut berada di dalam hutan register dan dulu kerap dijadikan pemburuan badas atau kambing hutan.

Pak Daruni pun melanjutkan ceritanya. Masih cerita tentang mimpi yang ia alami tentang didatangkan bidadari dan petunjuk adanya curug yang indah. Hari esoknya, ia pun dimimpikan hal yang sama. Dalam mimpinya tersebut ia seperti melangkahkan kaki menuju ke arah curug tersebut berada. Ia seolah ingin membuktikan, dengan membawa alat jala untuk mencari ikan dan membawa bekal untuk makan.

Ia pun menyelusuri aliran air sembari mencari ikan. Di saat dalam perjalanan mencari ikan itu juga ia bertemu dengan sepasang enggang (burung besar dalam bahasa semendo). Setelah bertemu sepasang enggang tersebut ia juga diterpa hujan lebat. Sampai akhirnya ia ditemukan curug kecil berukuran 2 meter.

Di dalam mimpinya tersebut juga, ia juga bermimpi bahwa akan melihat tebing dan bebatuan seperti istana yang terbuat dari emas. “Istana ini seperti berada dalam ilmu gaib, ia terbuat dari emas,” terangnya.

Dan di atas curug tersebut, ia meyakini ada sebuah makam yang hingga saat ini tidak diketahui siapa pemilik makam tersebut. Bahkan, ada air yang mengalir menyerupai akar air terjun. “Konon katanya yang mandi di air yang menelusuri akat ini bisa awet muda,” kata dia.

Setelah itu, Pak Daruni masih dalam mimpinya setelah menemukan aliran akar curug ia kembali berjalan dengan terpaan hujan yang semakin lebat dan ditambah petir yang begitu keras. “Nah setelah itu beberapa meter kedepan dari curug kecil, ketemulah curug yang lebih besar,” terangnya.

Kenapa disebut putri malu? Pak Daruni menceritakan, bahwa berkaitan dengan mimpi pertamanya yang melihat dan dipertemukan dengan 40 bidadari. “Jadi setelah kita telusuri, kita awalnya ingin menyebutnya sebagai curug bidadari. Namun, hasil pertemuan dengan tetua adat atau tetua kampung yang juga menceritakan ada seorang perempuan misterius di kampung ini, akhirnya kita sebut putri malu,” menurutnya.

Perempuan yang misterus tersebut bernama putri Rully. Menurut informasi yang ia peroleh pun putri Rully tidak punya tulang. “Tapi ketika sendirian dia bisa bekerja, dari menganyam sampai mandi sendiri. Kalau ada orang dia lemes dan loyo. Makanya kami hubungkan dan saya bersama Pak Mahdi (55) dan Pak Sudiono (60) untuk melihat ke atas dan membuktikan hingga dihubungkan dengan putri Rully jadi putri malu,” cerita Pak Daruni.

Namun, yang sempat membuatnya risau adalah, di dalam mimpinya tersebut, air terjun itu minta korban, yakni dua pasang, laki-laki dan perempuan. “Tapi kita tebus dengan kambing,” kata dia.

Namun, ada kekuasaan yang berkata lain. Ia dikabarkan bahwa anak buahnya jatuh dari atas curug putri malu saat hendak berkebun. Selain itu, ada juga seorang perempuan yang tiba-tiba mati mendadak karena sakit. “Sekarang sudah sepasang. Yang laki itu anak buah saya dulu, namanya Pak Min, ia jatuh hendak menyeberangi aliran air di atas curug mau ke kebun. Sedangkan yang perempuan bernama Suriana. Ia tinggal di gubuk tak jauh dari air terjun. Mati secara tiba-tiba. Tapi setelah itu aman, dan tidak ada kejadian aneh lainnya,” Pak Daruni mencoba menjelaskan sembari mengingat-ingat nama Suriana.


Pada akhir penjelasan mengenai air terjun putri malu, ia menitipkan pesan kepada pengunjung agar tidak berlaku sombong dan berbicara semaunya saat di curug. “Harus menjaga sopan santun, dan benar-benar menikmati suasana alam. Jangan sombong dan berbicara semaunya,” tutupnya yang juga menceritakan tentang hal-hal gaib dalam menemukan sumber air panas yang tak jauh dari perkampungan warga di kampung setempat. (Yoga Pratama)
Previous
Next Post »

3 komentar

Click here for komentar
2 May 2017 at 09:01 ×

Menarik nih ulasan tentang asal usul nama air terjun putri malu.
btw, belakang rumah pak Daruni juga asik buat ngopi2 :D

Reply
avatar
2 May 2017 at 17:52 ×

Wah dah keburu ditulis neh

Reply
avatar
2 May 2017 at 19:40 ×

Ngopinya pake gelas dari bambu om.. 😀😀

Reply
avatar