Perempuan dan Perawan

Janji Ditebar, Nikmat Dikejar, Dosa Melebar, Niatan Menikah Terkapar
-Saya telah meminta kepada Tuhan untuk mempertemukan saya dengan orang yang baik dan dengan niatan yang sama, bukan untuk kepatahan hati selanjutnya-
***
Kenapa rasa penyesalan itu hadir ketika semua yang disesalkan berwujud kehilangan. Setidaknya itulah yang menjadi gambaran saya, kenapa sampai saat ini saya betah dengan kesendirian alias menjomblo.
Saya sangat sadar. Tak ada sedikitpun pembenaran yang benar tentang manfaatnya berpacaran. Sungguh, saat ini yang saya rasakan hanya ada rasa bersalah. Justru semakin bersalah ketika saya merasa sadarnya saya adalah kesadaran yang saya nilai sebagai rasa sadar yang terlambat.
Selama ini saya hanya bisa mengalibikan bahwa jatuh cinta kepada seseorang itu adalah hakiki setiap manusia. Tak peduli dengan janji-janji, dan tak peduli dengan kenikmatan duniawi yang kebelinger alias salah kaprah. Bahkan, tak peduli dengan dosa-dosa atas apa yang telah dilakukan.
Saya merasa, inilah dosa di masa lalu saya. Sebagian kecilnya, ketika saya berpacaran, sudah berapa ribuan janji yang sampai-sampai membuat saya tak hapal. Dari janji menjalankan hubungan sampai pada penikahan, sampai janji saling menjaga diri. Tak ada satupun janji itu kini menjadi janji yang bisa saya pertanggungjawabkan.
Saya jadi ingat, ada beberapa teman yang juga memiliki permasalahan yang sama. Ia bercerita kepada saya sampai menangis. Bagaiamana tidak, apa yang telah ia lakukan seperti dosa di masa lalunya yang ia rasa sungguh memalukan. Cerita yang hampir yang saya alami. Untung saja, saya masih tahu batasan saat berpacaran. Meski alibi tentang sebuah batasan juga tak pantas saya sampaikan, karena saya tetap menjadi orang yang salah karena memilih berpacaran pun sudah jelas, tidak ada kebaikan apapun yang bisa dijadikan dasar pemikiran.
Tahun 2015. Saya sedang asik di rumah, di hadapan laptop dan beberapa buku yang harus saya selesaikan untuk memenuhi kebutuhan nilai di kampus.  Tiba-tiba teman menelpon. Dia seorang perempuan, sebut saja Dena. Dia menelpon dengan nangis sesegukan.
“Yoga, di mana kamu?” belum mengucapkan salam. Ternyata beberapa pesan di WhatsApp belum saya baca karena masih mengerjakan tugas kampus.  
Assalamualaikum. Di rumah, kenapa Den?” Jawabku. Sebenarnya dalam hati membatin. Menerka-nerka, Dena ini kenapa, kok telepon dengan isakan tangis yang begitu dahsyatnya.
“Aku ganggu gak? Mau cerita sedikit boleh?” Tanyanya. Aku pun mempersilakan dia untuk bercerita. Semampuku akan menjawab semua yang ia tanya. Begitu juga sebaliknya, jika tak ditanya aku mencoba menjadi pendengar yang baik. Karena kegundahan seseorang terkadang butuh tempat untuk dicurahkan. Mungkin saja yang Dena lakukan adalah salah satu caranya, kepada seorang teman yang ia percaya. Semoga saja.
Dena memulai ceritanya, ia mengaku tengah berada di Bakauheni. Di sebuah tempat yang ia juga tak menjelaskan secara spesifik. Ia mengaku hanya ingin menyendiri. Hatinya sedang dalam keadaan yang benar-benar kalut. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Bahkan, di tempatnya sendiri itu ia sudah satu pekan lamanya. Ia tak mau bertemu dengan siapapun, termasuk seseorang yang katanya ingin menikahinya.
Dena pernah bercerita di waktu sebelumnya. Jauh-jauh hari, dari hari ini ia bercerita tentang rencana seseorang yang lebih tua darinya ingin menikahinya. Ia pernah kecewa dengan manisnya janji kekasihnya, sampai akhirnya ia harus merelakan sebuah mahkota yang paling dijaga sebagai seorang wanita. Ya, ia telah menyerahkan semua sebagai bukti ia juga mencintai lelaki tersebut. Saat itu, saat pacaran membutakan mata hati, batin dan pikiran Dena. Kini Dena merasa jalan yang telah ia tempuh adalah kesalahan terbesar.
Semua yang telah ia perbuat seperti malapetaka. Beberapa waktu lalu, sebelum ia pergi meninggalkan rumahnya, ia sempat berbincang tentang pernikahan dengan seorang pria yang telah berumur 30 tahun. Sedangkan dia masih berumur 25 tahun. Selisih 5 tahun memang. Tapi Dena sudah tidak terlalu mempermasalahkan usia. Hanya saja, kini seseorang yang hendak menikahinya mempermasalahkan status dirinya.
Dena sempat dipertanyakan tentang mahkota terakhir seorang wanita. Apakah Dena masih memiliki mahkota tersebut? Seketika hati Dena berontak. Ia ingin menjawab yang sejujurnya, tapi ia tak sanggup, yang ada hanyalah emosi yang keluar dari bibir Dena. Dena merasa, tak layak hal tersebut dibicarakan.
Sampai akhirnya, Dena mengakui telah terjadi pertengkaran hebat dengan seorang pria yang hendak menikahinya tersebut. Dena akhirnya terus terang. Bahwa, ia sebagai perempuan memang memiliki kekurangan. Salah satunya adalah tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai perempuan. Ia pun menjelaskan, hal tersebut terjadi ketika ia masih duduk di bangku perkuliahan saat berpacaran dengan mantan kekasihnya. Dengan lugunya ia menyerahkan harta terakhir yang dimilikinya sebagai perempuan. Sebuah keperawanan yang takkan mungkin kembali itu benar-benar pergi di makan janji, dan dosa-dosa yang melingkar pada hubungan yang bukan suami-istri.
Ia tak henti-hentinya menangis. Rasa penyesalan itu seperti datang terlambat. Ia bingung harus berbuat apa. Rencana pernikahannya kini mengambang. Padahal kedua orang tuanya sudah mengetahui niatan tersebut. Lelakinya sudah berulang kali menyampaikan keseriusan, meski keduanya tak berpacaran.
***
Apa yang diceritakan Dena memang sudah banyak terjadi pada perempuan-perempuan di negeri ini. Perempuan lebih banyak menjadi korban janji para laki-laki. Aku pun meminta izin untuk menuliskan kisahnya dalam beberapa artikel yang saya miliki tentang perempuan dan perawan. Ia pun menyetujui, dengan catatan tidak mencantumkan nama aslinya. Ia hanya ingin menyampaikan pesan kepada seluruh wanita di negeri ini untuk tidak termakan janji manis seorang laki-laki.
Sekilas, cerita yang disampaikan teman saya ini juga menjadi cambuk bagi diri saya. Meski tak sejauh apa yang telah dilakukan Dena dengan masa lalunya, setidaknya saya dan mantan kekasih saya juga terlalu banyak janji saat berpacaran dulu. Bagaimana janji-janji ini menjadi dosa. Terlebih pacaran hampir empat tahun lamanya pun tak menjamin saya dan mantan kekasih saya menyegerakan diri ke pelaminan. Allah sudah benar membuka mata hati saya ketika saya dan mantan kekasih saya memutuskan untuk sama-sama merelakan perpisahan, dan mengikhlaskan semua yang pernah terjadi.
Karena saya percaya, setiap orang memiliki kisah yang kelam dan bahkan masih meninggalkan rasa trauma yang mendalam. Apa yang dilakukan teman saya adalah suatu keberanian. Meski berawal dengan sebuah pertanyaan, tetapi ia berani menyampaikan dan menceritakan kisah pilu yang pernah ia alami. Semata-mata agar seseorang yang hendak menikahinya tersebut bisa merelakan atau mengikhlaskan masa lalu yang telah dialaminya. Tak ada satupun wanita yang ingin mengalami hal serupa. Akan tetapi, Dena memberikan pesan yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita.
Saya pun banyak belajar dari cerita teman saya itu. Bahwa, pacaran lama tak ada yang bisa menjamin akan berakhir di pelaminan. Apalagi memberikan semua yang menjadi harta berharga bagi setiap orang. Tak ada yang menjamin, apa yang telah terjadi pada masa lalu akan menjadi sesuatu hal yang baik-baik saja di kemudian hari. Kecuali bertemu dengan orang-orang yang memehami keikhlasan dan kerelaan. Tapi siapa? Rasanya pun berat menjadi seorang laki-laki yang akan menikahi Dena. Tak semua laki-laki juga menerima sebuah pernikahan dengan seorang perempuan yang sudah tak bermahkota.

Maka dari itu, saya tengah mencoba menyendirikan ego saya untuk memiliki dalam setiap perjalanan dan cerita yang saya lihat, dengar, bahkan dalam ingatan di masa lalu yang telah terjadi. Setidaknya saya berusaha meningkatkan kualitas diri saya untuk tidak terburu-buru berpacaran. Namun, ketika saya siap dan ada yang siap untuk menjalani hubungi ke tahap yang lebih serius, saya pun telah meminta kepada Tuhan untuk mempertemukan saya dengan orang yang baik dan dengan niatan yang sama, bukan untuk kepatahan hati selanjutnya. Artinya, saya meminta dipertemukan Tuhan kepada perempuan yang baik dan siap untuk menikah. Agar kelak, tidak ada lagi janji yang ditebar, nikmat yang dikejar, dosa yang melebar, dan niatan menikah yang masih saja terkapar. Semoga. Aamiin.


Baca Juga : MELIHAT MANTAN JALAN DENGAN PACAR BARUNYA
Previous
Next Post »