Menuju Keluarga Hafizul Qur’an





Buku populer berjudul “Menuju Keluarga Hafizul Qur’an” yang berhasil menjadi kaca pada diri saya seusai membacanya. Buku yang tidak bisa saya rubah dan beri judul lain saat mereviewnya. Buku yang telah ditulis oleh Neny Suswati atau seseorang yang akrab disebut Umi Neny ini berhasil mengoyak-ngoyak pikiran saya sebagai pembaca.

Sungguh benar adanya; buku terbitan Aura Publishing yang memberikan kisah inspiratif menancapkan cinta menghafal Al-quran di keluarga tercinta.

Rasa syukur kembali saya sampaikan. Tuhan seperti mempertemukan beberapa orang untuk meyakinkan saya kepada sebuah pandangan hidup yang benar-benar harus saya fokuskan. Teladan demi teladan telah diturunkan, dan dihadapkan kepada saya sebagai sebuah cermin ingatan. Salah satunya, Umi Neny melalui bukunya yang saya jugalah menjadi moderatornya saat dilakukan bedah buku Selasa (9 Mei 2017) di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Provinsi Lampung.

Sedikit cerita, lagi-lagi memang Tuhan punya segala cara untuk saya dalam setiap pertemuan ataupun kesempatan event apapun yang akhirnya menjadi sebuah cermin.

Saat saya pertama kali ditelepon oleh pihak Perpusda Provinsi Lampung, saya tidak mengiyakan tawaran untuk menjadi moderator. Cukup bagi saya saat itu untuk mengusulkan nama Umi Neny dan bukunya untuk dilakukan pembahasan di Perpusda. Karena memang selain kenal dan merasa tidak enak jika harus menjadi moderator, saya pun harus melakukan kegiatan lainnya. Bahkan, sudah dijadwalkan jauh-jauh hari.

Namun, Allah berkata lain, kegiatan yang saya akan kunjungi pun berubah. Tidak jadi, alias dibatalkan karena beberapa faktor. Saat itu juga saya seperti diingatkan oleh pihak Perpusda, tentang kesanggupan untuk menjadi moderator bedah buku Menuju Keluarga Hafizul Qur’an.

Saya masih belum berani, apakah saya layak menjadi moderator di tengah acara yang seserius ini? Akhirnya saya berkaca pada pertemuan sebelumnya, ketika Tuhan memberikan saya pencerahan melalui beberapa pertemuan, termasuk pertemuan saya bertemu dengan Ustad. Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA dan moderatori launching dan bedah buku Menjemput Hidayah. Saya pun memberanikan diri bertanya kepada si empunya buku, si penulis yang kini berusia 52 tahun.

Lalu apa yang beliau katakan? Penulis ini ternyata sudah diberi tahu oleh pihak penyelenggara, dan ia pun langsung menyatakan persetujuannya saya untuk mendampinginya dalam acara yang berlangsung meriah tersebut. Subahanallah. Sampai pada akhirnya acara tersebut pun berlangsung, dan saya memandu acara tersebut dan dihadiri puluhan orang dengan aneka macam latar belakang, profesi, gelar, dan status. Saya dan Umi Neny menjadi pusat perhatian peserta.

Di awal saya pastikan, bahwa cerita yang sama apa yang telah saya tulis di atas juga saya sampaikan di dalam acara tersebut. Karena keyakinan saya, yang datang ke lokasi acara tersebut adalah orang-orang pilihan Allah, yang pada akhirnya bisa hadir di acara yang penuh manfaat.

Saya pun mengulas, sedikitnya tentang apa yang telah ditulis Umi Neny. Tak salah, sebegitu produktifnya penulis yang pernah ikut bagian pada karya antologi sebanyak 12 kali tersebut. Selain itu, 7 karya solonya pun, yakni, Bukan Cinta Biasa, Umi dan Richie, Atas Nama Cinta, Menuju Keluarga Hafizul Quran, Beranda Harish, Agar Hidup Terasa Tenang, dan Petualangan Harish ia pernah bubuhkan pena dan dibaca banyak orang.

Salah satunya yang akan saya bahas adalah buku Menuju Keluarga Hafizul Qur’an. Buku ini kini tengah proses untuk diedarkan di Toko Buku sekala nasional dan tersebar di seluruh Indonesia. Namun, fase buku ini berada memang sudah sangatlah panjang, bahkan sudah laku 1.000 eksemplar dijual pribadi oleh penulisnya. Dalam bentuk self publishing, buku ini pun layak disebut sebagai buku best seller. Kini seluruh masyarakat Indonesia, bisa menikmati bukunya dan dicari di toko buku-toko buku.

Menuju Keluarga Hafizul Qur’an, seperti sebuah cermin yang memberikan pesan khususnya kepada saya sebagai seorang anak muda yang jauh dari kata sempurna, mendekatipun tidak. Cermin yang berbanding terbali dihamparkan. Salam hormat akhirnya saya haturkan, bahwa ketidaksempurnaan seseorang itu benar adanya. Manusia tidak bisa selamanya merasa tinggi dan sama rata. Saya masih sangat jauh dari apa yang telah ditulis oleh Umi Neny.

Saya seperti dikoreksi, bahwa kebergunaan manusia dihidupkan dan dilahirkan di bumi itu untuk apa? Saya seperti racun yang tengah digrogoti untuk sadar dan bisa berjalan kembali lurus. Setidaknya meluruskan niat, dan merapatkan barisan di sebuah jalan yang benar dan baik.

Lagi-lagi disetiap babnya ada pesan yang bisa membuat saya menangis. Di awal, pada pembuka di sebuah buku, atas apa yang telah direview oleh guru Umi Neny. Sebuah catatan yang memang telah dituliskan umi, yakni tentang sebuah perjuangan sebagai seorang wanita dalam bertarung nyawa saat melahirkan, sakit yang dahsyat, sampai akhirnya mendapatkan buah hati, seorang anak yang saleh. Dalam buku ini saya seperti ditunjukkan hal-hal yang kongkret. Bagaimana kesungguhan orang tua dalam menjadikan putra-putrinya sebagai hafiz dan hafizah.

Sebuah kebanggaan tentunya, bagi orang tua yang berhasil mengantar buah hatinya hafal Al-Quran di zaman yang serba hedonisme dan modernisasi yang tinggi. Di tengah keterpurukan akhlak anak-anak muda yang berbalut gincu ataupun semerbak alkohol.

Hal-hal sederhana pun umi tulis dengan begitu menarik. Bahasa yang sederhana namun masih bisa dinikmati dengan keluarbiasaan. Cerita yang diksinya tidak terlalu monoton, dan tidak membosankan. Terlebih memang buku yang digarap serius ini pun di editori dua orang yang memang memiliki kompeten.

Bagaimana umi menulis cerita-cerita tentang dirinya bertemu dengan suami pun begitu mengharukan, komitmen yang dijalani pun luar biasa. Sebagai seorang anak muda yang bermimpi juga membangnun rumah tangga kisahnya pun bisa dijadikan acuan. Umi hanya meminta kepada Allah jodoh yang seiman.

Begitu juga dengan cerita putranya yang belum genap di usia 20 tahun berani memaparkan rancangan masa depannya kepada kedua orang tuanya. Memutuskan untuk menikahi seorang wanita yang telah menjadi hafizoh. Ia mengajarkan kepada anaknya untuk berani mengambil keputusan sendiri. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan membangun usaha. Sedangkan istrinya pun akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan perguruan tingginya. Seorang anak laki-lakinya kelahiran 1995 kini menjelma dewasa sebagai seorang bapak.

Tentunya pengalaman pertamanya menjadi ibu, hingga ia dan suami mengajarkan anak-anaknya berani mengambil keputusan sendiri, dan berharap pada cita-cita yang mulia, yakni anak-anaknya bisa hafal Al-Quran, yang juga merupakan cita-cita pertamanya dalam hidup, sungguh mulia sebagai orang tua. Begitu renyah diceritakan dan dinikmati hingga buku habis dibaca.


Ada banyak hal lainnya yang ditulis umi, yang pada akhirnya saya pun tak bisa merincinya satu persatu, karena memang buku yang sangat layak dibaca ini disajikan untuk semua kalangan. Maka tak salah, yang hadir kemarin bukan hanya dari kalangan yang sudah berkeluarga, juga yang masih meratap dan manatap masa depannya. Setidaknya begitulah yang bisa saya sampaikan atas apa yang telah apa yang ditugaskan kepada saya menjadi seorang moderator penulis yang kerap menghadirkan suasana pesantren di dalam rumahnya kepada anak-anaknya. (Laporan Yoga Pratama)
Previous
Next Post »

2 komentar

Click here for komentar
10 May 2017 at 22:33 ×

Mencerahkan. Semoga kita akan menjejak di jalan-Nya. Aamiin. 😊

Reply
avatar
10 May 2017 at 22:33 ×

Mencerahkan. Semoga kita akan menjejak di jalan-Nya. Aamiin. 😊

Reply
avatar