Melihat mantan jalan dengan pacar barunya

Ilustrasi foto
Kalau kamu ketemu mantan, yang masih disukai dan dicintai sedang berjalan dengan gebetan atau pacar barunya, apa yang akan kamu lakukan? ..............................................

            Kadar keimanan seorang jomblo itu dimulai ketika melihat masa lalu sudah move on terlebih dulu. Apalagi, kalau lihat masa lalu alias mantan jalan sama pacar barunya.
            *
           
            Asli, rasanya pengin mengumpat sejelek-jeleknya umpatan. “Gila aja! Gue belum move on. Tapi, dia sudah nyanyi lagu bahagia,” umpatan demi umpatan dilontarkan. Kalau sudah begini, mau dibilang apa, yang ada malah tambah dosa.
            Mei 2017 lalu. Saya sedang bertugas. Menjadi salah satu penanggung jawab production house (PH) untuk televisi nasional. Tepatnya, untuk tayangan konten lokal. Kebetulan, narasumber saya saat itu adalah komunitas sosial. Komunitas itu juga tempat mantan saya beraktifitas.
       Mau tidak mau, suka tidak suka, diharapkan atau tidak, saya pasti bertemu dengannya. Sebenarnya tak ada masalah. Terlebih sudah lama saya dan dia tidak menjalin komunikasi. Bahkan, saya berharap, saya tidak memiliki perasaan apapun kepadanya lagi.
            Pertama, saat saya datang, saya masih lega. Karena mantan saya belum juga hadir. Saya pun masih bisa bersikap sewajarnya. Karena pada saat saya datang usai azan magrib, dan saya tak tahu di mana letak masjid yang ada di sekitar wilayah sekretariat komunitas tersebut, saya pun memutuskan meminjam tempat untuk shalat.
            Saya pun shalat seperti biasa, tiga rakaat tidak kurang dan tidak lebih. Usai shalat saya sedikit bergurau dalam do’a, mungkin ini juga sebagai salah saya. Dalam do’a tersebut saya meminta kepada Allah, agar mantan saya tak datang ke sekretariat komunitasnya. Karena saya masih khawatir bahwa saya masih menyimpan sedikit rasa, yang kalau dia buka, dikhawatirkan semakin melebar asa.
         Saya dan crew yang lain pun bersiap-siap. Membenahi susunan alat yang akan dilakukan prosesi pengambilan gambar atau shooting. Saya juga masih sibuk membenahi naskah yang akan digunakan. Dan apa yang terjadi, saat kami tengah dalam kesibukan. Seorang perempuan dengan ciri khas menggunakan jilbabnya, dan sedikit terlihat sedikit gemuk mengucapkan salam.
           “Assallamuallaikum,” suara yang benar-benar sangat saya hapal. Tidak sedikitpun lupa dengan suara tersebut. Seusainya ada canda yang dilontarkan beberapa temannya, dan ia tertawa kecil. Sebuah tawa yang khas yang juga aku kenali.
            Dag, dig, dug.... Hati saya berdebar begitu kencang. Ingin menoleh dan menjawab salam, tapi leher tampak kaku dan terus melihat ke laptop. Tapi, mau tak mau, saya harus menjawab salam tersebut, dan melihat sosok perempuan tersebut sembari tersenyum.
            “Hey,” sapaku tipis.
        Wanita tersebut tersenyum. Ternyata, ada teman satu komunitasnya pun yang tahu tentang hubungan kami dulu. Sampai akhirnya, teman mantan saya ini sedikit menggumam.
            “Kok pada kaku gitu sih. Kaya baru kenal aja,” ledek seseorang yang bertubuh gempal.
            Otomatis, menjadi sebuah sirine yang membangunkan singa tidur. Teman-teman satu kantor saya pun seolah menjadi paham. Terlebih, salah satu crew ada yang kenal dengan mantan saya ini.
            “Oh, pantes si Yoga dari tadi diem aja. Nggak biasa loh,” kata teman saya seidkit tertawa.
            Begitu juga dengan presenter yang kami bawa. Ia pun membisiki saya. “Jadi ini toh. Pantes aku nggak boleh ngeledek soal nikah,” bisiknya menyindir.
          Wajah saya pucat pasi. Sedangkan, mantan saya masih tersenyum. Sampai akhirnya semua menjadi biasa. Ejekan demi ejekan seperti kalimat yang mampir langsung pergi. Tak lagi kita hiraukan.
            Saya pun masih leluasa dengan pekerjaan yang saya jalani. Begitu juga dengan teman-teman. Sampai pada akhir proses shooting, mantan saya izin pamit pulang lebih dahulu. Ia meminta izin kepada saya dan juga kepada teman-temannya.
            “Aku pulang duluan ya. Mamah sudah nyuruh pulang,” alasannya.
         Saya pun menyempatkan diri untuk bertanya kepada mantan saya. Sekedar bertanya pulang dengan siapa dan menggunakan apa. Karena memang dia datang, saya tak begitu memperhatikan. Sementara, teman-temannya kembali riuh. Ada yang bilang, bahwa saya siap mengantarkannya pulang. Sorak sorai tampak terdengar riuh. Tapi ia tetap menolak, dan mengatakan harus segera pulang. Mantan saya ini hanya bilang akan pulang sendiri. Akhirnya, ia pun keluar pintu. Saya mengikuti. Sekedar ingin memastikan bahwa ia benar-benar pulang dengan baik.
            Saya izin untuk membantunya, jika ia menggunakan sepeda motor. Tetapi ia menolak, dan menyuruhku untuk kembali bekerja. Ia memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Akan tetapi, ia tidak mengeluarkan sepeda motor. Ia lantas keluar gerbang. Aku mengintip dan ada sebuah mobil yang sudah menunggunya. Niatku menghampiri. Jika itu kedua orang tuannya, setidaknya aku bisa kembali bersilaturahmi. Akan tetapi, saya sempat dicegah. Seorang kawannya meminta saya untuk tidak menghampirinya.
            Saya nekat menghampiri. Karena memang saya ingin bersilaturahmi. Saya memastikan bahwa saya sudah bersikap biasa saja. Saya pun menghampiri. Sementara, dari yang ia naik pintu belakang atau duduk di kursi kedua. Pas saya hampiri dia ada di kursi depan, tepat samping yang menjemputnya.
            Mereka sedang membenahi sabuk pengaman. Sementara, mantan saya membuka kaca jendela mobil. Lantas saya pun terkejut. Ternyata yang saya hampiri bukanlah keluarganya. Saya selama empat tahun pacaran dengannya pun tidak mengenal dengannya. Saya kaget. Saya seolah minder, dan akhirnya mundur. Saya sekedar melihat dan menyampaikan sebuah pesan hati-hati. Lalu, kembali ke sebuah ruang dengan muka yang sedikit kecewa. Saya pun mengirimkan sebuah pesan singkat. Mengucapkan kalimat yang sama melalui sebuah pesan. “Kamu hati-hati. Jaga diri baik-baik.”
            Sebelum sampai kembali ke dalam sekretariat saya harus berhenti beberapa menit di sebuah teras. Membenahi deru nafas dan mengembalikan keceriaan. Setidaknya orang-orang melihat tidak terjadi apa-apa saat itu juga. Terlebih temannya yang sudah mengingatkan.
            Sungguh, pada saat itu, kadar keimanan seorang jomblo itu dimulai ketika melihat masa lalu sudah move on terlebih dulu. Apalagi, kalau lihat masa lalu alias mantan jalan sama pacar barunya.
          Akan tetapi, saya berusaha teguh. Berusaha menyadarkan diri. Bahwa saat ini saya sedang memperbaiki diri dengan memilih sendiri. Saya berusaha untuk tidak larut karena terbawa suasana.
            Saya sudah menegaskan diri, bahwa saya dan dia sudah kembali pada jalan yang benar. Saya sudah konsisten pada jalan sendiri ini. Meski harus putus dengan status yang mengecewakan bagi saya. Saya tak harus memutus jalinan komunikasi dan silaturahmi. Dan kini dia sudah bahagia, dengan kemewahan kekasih barunya. Selintas saya merasa bersyukur, artinya selepas saya memutuskan pergi dan dia meninggalkan saya, dia sudah lebih bahagia, dan menemukan apa yang diinginkannya. Terakhir, dalam hati saya pun mendoakannya. “Semoga dia baik-baik saja.”
***
Dalam cerita tersebut, dapat kita pelajari bahwa dalam kondisi apapun, dan di mana pun kita harus siap menghadapi segala situasi yang terjadi. Termasuk seorang jomblo yang harus merasa kekecewaan ketika melihat orang yang pernah dikasihinya telah memiliki kekasih yang lain, dan sudah bahagia. Lantas apa yang harus dilakukan? Sabar. Tetap teguh pada pendirian, dan mengikhlaskan. Tidak harus larut pada kekecewaan. Apalagi memutus silaturahmi. Terus bersikap baik kepada masa lalu yang tengah bahagia tersebut. Doakan yang terbaik, seperti dia mendoakan kita yang diharapkannya juga baik.


Baca juga : PEREMPUAN DAN PERAWAN
Previous
Next Post »