Jomblo Traveler? Siapa Takut!

 
“Saya sangat yakin, Allah akan menepati janjinya. Tentang siapa yang akan mendampingiku kelak. Tentang jodoh, dan tentang janji Allah, bahwa setiap manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan.”
***

Kutipan di atas sudah sangat jelas, maka saya meyakini, Allah memang telah mempersiapkan seseorang untuk dijodohkan dengan kita.

Siapa dia?
Di mana seseorang yang telah Allah janjikan untuk menjadi pasangan?

Adakah yang percaya, bahwa Allah telah ingkar? Hanya perkara penantian yang selama ini belum juga datang. Lantas haruskah kita menjemput jodoh kita dengan berpacaran?

Tidak enak ya menjomblo, kalau memang jodoh tak pasti datang. Kesepian dan apa-apa dilakukan sendiri. Tidak ada pacar; tidak ada yang memberikan perhatian.

Lagi-lagi setan membisiki dan kita tidak tahan godaannya. Mana mungkin Allah ingkar. Allah itu maha menepati janji loh. Seandaianya jodoh itu tidak datang, mungkin ada yang salah dengan diri kita. Jodohkan sudah menjadi suratan takdir yang ditentukan Allah sejak manusia lahir di bumi. Tak perlu kita suudzon sama Allah tentang jodoh? Lebih baik kita berserah diri dan berdoa kepada Allah, semoga kita diberikan jodoh yang sholeh ataupun sholehah.

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah swt. yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah swt. adalah pengawas atas kamu”. (An Nisa: 1)


Perjalanan saya menjadi seorang jomblo memang tidak seperti teman-teman saya yang lainnya. Saya seperti orang yang terlambat menyadari bahwa menjadi jomblo itu nikmat.

Dulu, saya merasa bahwa status jomblo adalah status yang paling hina. Tidak ada kebahagiaan sebagai seorang jomblo. Kalau ada yang bilang bahagia itu hanya alibi semata. Sungguh, saya dibutakan kasih sayang manusia.

Hinaanya seorang jomblo pun semakin dipertegas dengan meme yang menyudutkan seorang jomblo. Saat itu saya pun menganggap jomblo adalah kutukan, karena seorang jomblo patut dikasihani sebagai kaum-kaum yang tersakiti.

Setelah menjalani perjalanan panjang seorang diri. Akhirnya, saya pun menyadari. Jomblo adalah kebahagiaan. Terlebih saat ini saya telah menasbihkan sebagai traveler. Melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Sekedar singgah menikmati keindahan yang dimiliki Indonesia. Juga sembari memantaskan diri dengan beberapa pertemuan dengan lawan jenis. Karena saya tak tahu siapa jodoh saya, dan dari mana ia berasal. Maka saya melakukan perjalanan. Selain sebagai hobi dan mengisi beberapa blog yang saya miliki, perjalanan yang saya lakukan bisa jadi juga sebagai bentuk ikhtiar. Tapi tidak dengan melegalkan kembali semangat berpacaran.

Wah... apa nggak semakin di-bully kak? Jalan-jalan seorang diri, tanpa pacar.

Katakan tidak takut. Kalaupun bully datang, saya justru bangga. Karena cobaan itu datang, tepat di saat saya sedang menguatkan diri untuk mencari cinta sejati saya dengan cara langsung menghalalkan di pelaminan bukan lagi dengan cara berpacaran. Semakin di bully, dan semakin kuat saya, maka saya percaya bahwa saya telah siap menghadapi pernikahan. Saya percaya, suatu saat akan datang pertemuan yang singgah di pelaminan.

Dengan beberapa perjalanan yang saya lakukan pun, saya menjadi leluasa. Saya adalah orang-orang yang bebas. Tidak ada yang melarang kemanapun saya berada dan tidak perlu izin untuk pergi ke mana saja. Izin hanya saya sampaikan kepada kedua orang tua. Artinya, saya bebas traveling sebagai seorang jomblo.

Karena kebanyakan teman-teman saya gagal melakukan perjalanan itu karena tidak diizinkan pacarnya. Jika bisa pun, butuh waktu yang lama, karena harus lebih dulu mendapatkan izin. Dan banyak juga yang membatalkan traveling karena izin nggak diperoleh dari sang kekasih. Sungguh, membuat hari-hari yang telah ditata menjadi berantakan. Kalau jomblo? Mau jalan kapan dan ke mana saja mah bebas.

Sebagai jomblo traveler pun kita punya banyak kesempatan untuk mengenal karakter seseorang yang kita anggap menarik hati kita. Jomblo traveler kan bukan berarti jalan-jalannya sendirian. Bisa sama teman-teman. Temanpun ada yang laki-laki dan ada yang perempuan. Artinya, kesempatan untuk mengenal pun sangat luas. Terlebih jika bertemu dengan orang-orang yang baru.

Traveling pun kan luas. Kita ke masjid satu ke masjid yang lain pun bisa disebut traveling. Asal niatnya juga untuk ibadah, bukan hanya sekedar jalan-jalan. Jadi kesempatan untuk bertemu dengan siapa saja, dan dengan niat mencari pasangan seperti apa pun bisa dilakukan. Selama masih menyandang status jomblo, kita bebas dekat dengan siapa saja. Asal tidak melanggar kaidah manusia yang beragama.

Nah, makanya yang jadi jomblo harus bersyukur. Selama perjalanan dan melakukan perkenalan dengan siapapun tidak ada yang mencurigai. Asal jangan kenalan dan pendekatan dengan pacar dan istri ataupun suami orang. Bakal berbahaya, justru jadi malapetaka. Berabe urusannya. Kalau sudah begitu, perjalanan yang seru adalah ketika tidak ada yang cemburu dengan kita, ketika kita berkenalan dengan seseorang yang juga statusnya jomblo. Dan kita pun tidak khawatirin untuk dicemburuin.

Bersyukur juga sebagai seorang jomblo. Karena memiliki banyak waktu luang. Bisa buat jalan-jalan, ya, setidaknya ikut menikmati menyandang status jomblo traveler. Nggak perlu khawatikan waktu luang disuruh ini dan itu sama seseorang yang mengaku pacar. Menyita energi, dan menyita waktu yang seharusnya bisa diisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan bermartabat.

Keuntungan lainnya, ada di soal perhatian dan biaya. Ya, jomblo itu nggak repot untuk khawatirin seseorang selama menikmati perjalanan. Biayanya pun nggak jadi double. Karena ngurusin pacar di perjalanan itu suah loh. Kalau jalan sama pacar harus siapin budget ekstra. Kalau jomblo kan budget yang dibutuhkan untuk badannya sendiri. Bukan begitu?

Menjadi jomblo traveler pun masih banyak kegiatan positif lainnya. Contohnya, saya juga menyibukan diri di banyak komunitas di lingkungan saya berada. Kegiatan sosial, dekat dengan orang-orang baik, dan belajar banyak hal tentang hidup. Dengan begitu, kesempatan saya untuk berbuat baik pun lebih banyak dan terbuka lebar tanpa harus mencurigai dan dicurigai dibandingkan mereka yang berpacaran.

***


Pada intinya, kita semua di ajarkan bahwa kita sebagai umat beragama tidak perlu menyesali kejombloan. Masih banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan. Dari perjalanan sebagai traveler, sosial, dan apapun yang juga bisa banyak mempertemukan kita dengan orang-orang baik. Perkara Jodoh, serahkan kepada Allah dengan ketetapannya. Kita sebagai seorang jomblo setidaknya telah berikhtiar memohon yang terbaik dari jodoh yang terbaik.
Previous
Next Post »

1 komentar:

Click here for komentar
Dewi Rieka
admin
31 May 2017 at 21:49 ×

Iya, santai saja, ada waktunya..tetap juga pasang radar kira2 mana yang bisa dipilih jadi solmet hehe

Congrats bro Dewi Rieka you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar