Janji Allah Akan Pernikahan

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (An Nuur: 32)
*
Sebenarnya tak ada yang harus dibingungkan. Tapi tak dipungkiri juga, sebagian besar para pemuda masih ada yang merasa bingung. Bimbang dengan pernikahan. Sebabnya karena belum memiliki pekerjaan. Ada pekerjaanpun dirasa masih belum mapan. Gaji yang diperolehnya per bulan dirasa belum cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Hal serupa juga yang beberapa kali melanda diri saya. Dalam pikiran selalu terbesit, “bagaimana kalau uang per bulan yang saya miliki tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Baik kebutuhan istri dan kebutuhan dapur?”
Saya jadi ingat cerita seorang kawan. Ada beberapa kawan saya yang memutuskan untuk menikah muda. Ketika saya tanya, kenapa berani mengambil langkah menikah secepat ini, tidak takutkah mereka, seperti yang saya takuti selama ini. Ayat An Nuur: 32 merupakan jawaban, katanya. Surat tersebut, kata mereka merupakan jawaban buat mereka yang ragu dalam meangkah ke jenjang pernikahan dengan dalih tidak siap secara ekonomi.
“Tak terasa ya ga. Kita sudah wisuda. Artinya sudah tiga tahun kita saling mengenal. Suka duka kita lampaui bersama,” kata seorang sahabatku ketika sama-sama menmpuh pendidikan diploma tiga di salah satu perguruan tinggi di Provinsi Lampung. Namanya, Tri Sujiono. Orang-orang di kampus menyebutnya Mas Tri. Dia sangat aktif di setiap kegiatan dakwah kampus. Ia kuliah dengan bantuan beasiswa dari pemerintah daerah. Ia tinggal di salah satu mess masjid yang ada di kampus. Kuliah dengan menyambi sebagai marbot masjid ia tekuni selama tiga tahun lamanya.
Di akhir masa perkuliahan memang ia sempat bercerita niatan untuk menikah. Tetapi, ia tak secara jelas menceritakan kapan waktunya. Hanya saja, ia tengah mengajukan diri. Pernikahannya ingin taaruf. Bahkan, yang mengenalkan adalah orang tua si calon yang akan ia nikahi. Kata Mas Tri, perempuan yang akan dinikahinya ini bercadar. Tetapi secara menyeluruh ia belum pernah melihat seperti apa perempuan yang akan dinikahinya. Ia hanya tahu, keluarga besarnya begitu taat dengan agama. Tak ada keraguan dari diri Mas Tri.
Sampai akhirnya tak ada kabar sama sekali dengan Mas Tri saat masa libur yang berkepanjangan menjelang wisuda kami. Sampai akhirnya, acara wisuda tiba. Ketika acara wisuda pun, ia masih duduk disebelah saya. Lalu, ia menyalami saya dengan hangat. Ia pun menayakan siapa saja dari keluarga saya yang datang di acara wisuda ini?
Saya hanya menjawab? Bapak, mamak, dan adik perempuan saya. Sementara adik laki-laki saya di rumah. Sedangkan, Mas Tri mengaku ia datang bersama istrinya. Ia pun menunjuk bangku di atas tribun gedung serbaguna tepat istrinya duduk menunggunya. Seorang perempuan dengan cadar dan jubah serba hitam sedang menunggu suaminya yang akan diwisuda.
Mas Tri mengaku sudah menikah. Saya adalah orang pertama di antara 30 mahasiswa di program studi peternakan yang mengetahui pernikahannya. Ia belum sempat memberikan kabar satu per satu kepada kawan lainnya. Ia pun mengingatkan saya, agar tidak terlalu lama untuk memutuskan menikah. Kata Mas Tri, kasihan kekasih saya. Jika harus menikmati ribuan janji, tanpa satupun yang bisa ditepati. Sesungguhnya pernikahan adalah yang dinantikan semua orang.
“Yoga, jika kamu yakin sama pacarmu itu, nikahi dia. Jangan lama-lama. Nanti makin ada setan banyak kalo kamu tunda-tunda lagi,” pesannya kepadaku.
Lalu, ia bercerita, yang perlu kita tegaskan dalam perkara menikah adalah kesanggupan memberi nafkah. Makanya kita dituntut untuk bekerja, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Jangan hiraukan besar kecilnya rupiah yang kita dapatkan saat ini. Saya percaya, Allah dengan kekuasaanya sebagai Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi. Allah akan menolong orang-orang yang menikah. Allah Maha Adil. Allah akan memberi rezeki yang lebih, jika melihat tanggung jawab para pemuda bertambah dengan kewajibannya menafkahi istri, terlebih jika memang sudah diamanahkan seorang anak. Maka Allah akan memberikan rezeki yang lebih itu. percayalah.
Mas Tri pun menyampaikan beberapa ayat yang ia ketahui tentang apa yang telah ia sampaikan:
Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya“. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160).
Maka benar saja, yang dilakukan Mas Tri adalah langkah bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka ia berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir“. (Ar Ruum : 21)
Selain Mas Tri, cerita seperti itu juga tampak terjadi pada Muhammad Hilmy Aziz. Seorang putra dari Umi Neny Suswati. Seorang ibu yang menjadi teman, dan penasehat bagi saya untuk tetap berada di jalan yang lurus. Serta meluruskan niat untuk menyegerakan pernikahan.
Hilmy menghadap kedua orang tuanya. Memperlihatkan apa yang telah ia tulis. Hilmy pun mempresentasikan alasanya keluar dari pendidikan formal yang sedang ia tempuh. Hilmy merupakan mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Terbuka untuk mencapai profesi sebagai notaris.
Tapi Hilmy telah memutuskan untuk keluar. Dengan beberapa alasan yang kuat, ia pun direstui kedua orang tuanya untuk berhenti kuliah. Ia pun melanjutkan presentasinya. Lebih matan dan penuh keyakinan. Ia menyampaikan rencana hidupnya.
Slide power point pun ia tampilkan. Perjalanan hidupnya disampaikan satu per satu hingga akhirnya masuk pada rencana hidup untuk usianya 20-25 tahun. Saat itu usia Hilmy masih 19 tahun.
Hilmy pun menyampaikan niatannya ingin menikah. Tepat di usianya yang 19 tahun, ia merencanakan pernikahan akan berlangsung pada usianya ke 20 tahun. Ia sudah merancang rencana itu satu tahun sebelum pernikahan.
Beberapa penjelasan dan argumen untuk meyakinkan kedua orang tuanya pun Hilmy lakukan. Sebagai calon imam, ia yakin dengan pilihannya tersebut. Meski Hilmy juga meyakini bahwa di usianya anak-anak di era modern lebih memilih untuk menyelesaikan kuliahnya. Ketika yang sarjana juga menunda niatan menikah karena ingin kumpulkan harta. Tapi dia justru ingin menikah.
Sekali lagi, Hilmy berupaya pernikahanya bernilai dakwah. Ia yakin kepada Allah sebagai pemberi rezeki dan ia percaya akan janji Allah tentang pernikahan. Selama itu, ia pun bersungguh-sungguh dan yakin atas apa yang ia pilih. Itu juga yang menjadi faktor keberaniannya untuk menikah muda.
22 Januari 2015. Usia Hilmy 20 tahun. Hilmy memulai kehidupan barunya. Menjadi iman dan membangun keluarga, seperti apa yang diimpikannya. Tak adalagi keraguan dari Hilmy.
***
“Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina` 
“. (Al Mu`min : 60)
Selain cerita di atas. Ayat Al Mu’min : 60 ni juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk, ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dan seterusnya.
Maka, kita dituntut untuk ikhlas dan bersungguh-sungguh. Berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir di mana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia, pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, atau pada waktu-waktu lainnya.
Bagi kita yang jomblo, saat ini mungkin kita merasa bahwa jodoh teramat sulit untuk untuk datang. Perjalanan demi perjalanan sudah dilalui. Beberapa pertemuan dan perkenalan sudah dilewati. Bahkan, sampai ada beberapa orang yang tengah menjodohkan pun dilakukan. Maka, kita hanya diminat untuk bersabar dan terus berupaya memperbaiki diri. Selain itu juga, kita tetap berbaik sangka kepada Allah.
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat``. (Al Baqarah: 214). Itulah janji Allah. Jadi kenapa ragu dengan janji Allah?

Previous
Next Post »