Bangga Menjadi Jomblo

“dari pada menyakiti banyak wanita karena hanya berlandaskan hasrat ingin memiliki, lebih baik saya menyendiri dan menemukan cinta sejati yang bisa menemani saya hingga akhir hayat nanti berpulang kepangkuan Illahi.”

Menjadi seorang jomblo kerap diartikan sebagai seorang yang tidak laku. Kalimat tidak laku ini yang menjadikan suatu keadaan yang memalukan bagi siapa saja yang memiliki label jomblo. Bahkan, jomblo adalah senjata yang paling banyak beredar untuk menghina seseorang karena tidak mempunyai pacar.
Memang, setiap orang memiliki alasan berbeda-beda kenapa memilih menjadi seorang jomblo. Ada juga status jomblonya adalah nasib karena tidak satu orang pun yang mau dengannya saat itu juga. Tetapi, kalimat tersebut adalah kalimat yang mengandung unsur putus asa tingkat akut. Karena tak laku, kalut dalam kejombloannya.
Karena yang perlu kita sama-sama garis bawahi adalah menjadi jomblo itu bukan berati tidak laku. Jomblo bisa menjadi kebahagiaan tersendiri bagi yang memahami kenapa dirinya masih menjomblo. Orang-orang yang paham, akan memanfaatkan waktu menjomblo dengan banyak hal.
Akhirnya saya pun survei kecil-kecilan di lingkungan pertemanan saya. Meski sekala kecil, setidaknya pernyataan-pernyataan teman-teman saya juga dialami banyak orang. Inti ceritanya serupa, meski tak sepenuhnya sama.
Dari 20 teman yang saya tanya, ada 12 teman yang menyatakan kalau jomblo adalah hal yang membahagiakaan meski bukan yang membanggakan. 5 teman lainnya mengatakan jomblo adalah hal yang membanggakan dan membahagiakan, asalkan bisa dilalui dan menikah ketika merasa dirinya telah siap untuk membangun rumah tangga. 3 teman lainnya mengatakan menjomblo adalah nasib yang tragis karena belum juga bisa memilih pasangan sesuai apa yang diinginkan, jika bertemu yang diinginkan masih akan melanjutkan ke jenjang pacaran.
Mungkin ini karena saya bertanya kepada teman-teman saya. Tapi apakah jauh berbeda dengan orang yang saya tak kenal. Bisa jadi. Tapi setidaknya, dalam hal ini, status jomblo masih sangat menarik untuk sama-sama ditelisik. 20 teman saya dengan beberapa kategori kesimpulan yang serupa. Meski masih ada sekian persenya masih memungkinkan untuk pacaran
Saya pun menarik dengan masing-masing jawaban dari teman saya. Saya akan seidkit mengurai dengan apa yang disampaikan 3 teman saya yang masih mungkin pacaran kalau menemukan seseorang yang sesuai selera atau kriterianya masing-masing.
Dengan status jomblonya teman saya mendekati banyak target. Status jomblo membuatnya leluasa dekat dengan siapa saja. Itu juga yang banyak dilakukan banyak orang di luar sana yang sudah memiliki pasangan. Meski sudah memiliki pacar, ada saja yang mengaku dirinya jomblo. Hal itu disampaikan karena ia ditanyakan oleh orang yang bisa membuat hatinya berdebar macam jatuh cinta saat pertama kali bertemu.
Saya pernah hampir tertipu. Ada seorang teman lama yang sempat dekat dengan saya. Sudah lama tak bertemu. Sampai pada suatu ketika kita kembali dipertemukan, dia masih saja mengaku seorang jomblo. Lantas, kita pun foto bersama. Foto seorang teman yang sama-sama hobi bercanda. Eh, saat di posting foto tersebut menjadi huru hara. Pacar teman lama saya ini marah-marah, dan menganggap saya adalah seseorang yang merusak keharmonisan cinta mereka.
Dari hal tersebut saja, saya sudah bisa menilai, bahwa menjadi seorang jomblo adalah hal yang membanggakan. Bayangkan, yang sudah punya pacar saja masih mengaku jomblo. Masa yang jomblo malu mengakui dirinya seorang jomblo. Karena dengan status jomblo seseorang bisa mendekati siapa saja. Tapi itu adalah penjelasan yang keliru. Tapi saya menarik untuk menyimpulkan agar kedepan ada banyak jomblo yang tidak lagi malu saat label jomblo sudah terpatri di keningnya.
Selain itu, ada juga beberapa alasan yang membuat seseorang tidak juga punya pasangan alias menjomblo terus menerus. Jomblo yang tanpa kepastian kapan diakhiri.
Pertama, kulitas diri yang rendah. Ingat, dalam hubungan apapun, kualitas diri itu selalu memiliki peranan penting. Baik urusan pekerjaan, sosial, maupun romansa, kualitas diri memang selalu menjadi bagian yang teramat penting. Maka upgrade. Meski sekala bertahap atau secara menyeluruh.
Apa yang harus di upgrade? Banyak hal. Bisa dimulai dari penampilan. Artinya, kalau mau ketemu calon gebetan atau orang-orang yang baru dan bisa berpotensi untuk jatuh cinta itu setidaknya kita harus memberikan tampilan yang terbaik. Tidak dekil, tidak lusuh, dan berpenampilan yang urakan. Karena dari tampilan akan menjelaskan siapa diri kita. Hal ini juga tentunya berbicara kualitas diri yang baik sebagai manusia.
Selanjutnya? Jangan hanya mengandalkan tampang yang ganteng dan cantik ataupun kekayaan orang tua. Karena itu saja belum cukup. Jika banyak yang beranggapan seseorang yang rupawan dan mapan adalah segalanya, stop lah menjadi seseorang yang bisa dicintai dengan tulus. Anggapan seperti itu salah besar. Percuma rupawan dan jutawan kalau tidak punya otak, alias kosong, dan nggak berisi pemikirannya. Artinya, perlu di upgrade ilmu pengetahuannya. Jadi yang dibicarakan bukan kesombongan dan kebohongan.
Kedua, sering menjadi raja dan ratu complain. Sedikit-sedikit dikomentari negatif. Suka complain banyak hal. Dari fisik yang menyebut item, pendek, dan gendut. Sampai pada ke materi yang mengatakan miskin dan bodoh. Semua menjadi hal dikeluhkannya dengan kejam. Sungguh, orang-orang seperti ini terkategori seseorang yang sadis. Pantaslah mereka menjomblo terlalu lama.
Tapi ada juga yang secara mengeluhnya dengan memelas. Benar-benar complain. Dari yang merasa semua cewek atau cowok itu sama saja, hanya mau yang tampan, seksi, kaya, dan lain halnya. Padahal mengeluh bukan solusi yang bisa membuat kita cepat memperoleh pasangan.
Kehidupan yang sudah ngenes tidak perlu lagi dikeluhkan. Tanpa mengeluh orang lain sudah tahu kok, kalau kita itu jomblo ngenes. Dalam hal ini yang seharusnya kita lakukan adalah menjadi pribadi yang menarik. Belajar dari apa yang sudah terjadi selama ini. Kenapa semua cewek menolak saat ditembak? Atau kenapa semua cowok nggak ada yang mau deketin kita, dan tiba-tiba para lelaki pergi menjauh. Karena kalau diawal sudah mengeluh, sepanjang jalan berpacaran pun akan selalu mengeluh ini dan itu. Untuk itu buatlah pribadi yang menarik untuk dimiliki.
Ketiga, memiliki pemikiran dan perasaan negatif kepada semua orang. Semua perasaan dan pemikiran negatif dipastikan akan selalu menjadi penghalang untuk berhubungan dengan siapapun. Karena bawaanya selalu mencurigai. Membuat lawan jenis pun tak tertarik untuk mendekat. Bagaimana mau mendekat kalau sudah dicurigai terlebih dahulu. Pemikiran dan perasaan negatif ini juga yang membuat seseorang menjadi tidak percaya diri. Karena dia tidak pernah bisa membangun kepercayaan kepada siapapun.
Keempat, menganggap sumber yang salah itu adalah hal yang diyakini benar. Jangan menganggap dan membenarkan buku primbon ataupun zodiak atau jenis apapun yang menjelaskan tentang percintaan.
Saya pun tak mempersilakan kalian untuk percaya atas apa yang saya tulis ini sebagai panutan kisah percintaan kalian. Ini adalah gambaran yang saya ketahui tentang kenapa masih ada banyak orang yang jomblo, termasuk saya sendiri. Saya belajar dari banyak pengalaman dan kisah teman-teman saya, kenapa saya menuliskan cerita ini.
Yang saya maksud adalah, ketika memiliki sumber jangan dianggap sumber yang dibaca itu suatu kebenaran. Kecuali yang sudah tertuang dalam Al-Qur’an dan hadist. Itu sudah sepatutnya kita menyadari bahwa apa yang tertulis tersebut adalah suatu kebenaran.
Karena ada cerita dari teman saya, yang salah mengartikan tulisan yang ditulis oleh manusia. Yakni, tentang bagaiman mendekati seseorang atau bahasa kekinian saat ini disebut dengan PDKT. Orang yang sedang kita lakukan PDKT itu katanya harus diberi banyak perhatian. Dengan banyaknya perhatian yang diberikan, maka akan semakin mulus pula PDKT yang tengah dilakukan. Sampai akhirnya sukses untuk memulai hubungan yang lebih serius.
Coba deh, kita bayangkan, jika memang perhatian saat PDKT manjur. Coba saya umpamakan kalau dari awal target yang kita sedang PDKT ini tidak tertarik dengan kita. Apapun bentuk perhatian yang diberikan, saya rasa akan berbuah satu hal yang sama, tetap membuatnya tidak tertarik pada kita. Karena dari awal memang target itu tidak memeberikan umpan balik yang bisa menjadi daya tarik. Tak ada satupun pesona dan perhatian yang bisa meluluhkan jika seseorang sudah tidak merasa memiliki daya tarik ke kita.
Maka, sebaik-baiknya ilmu adalah pengalaman yang telah terlewati. Jadi jangan hanya dijadikan penghias pada sejarah masa lalu. Setidaknya bisa menjadi tolok ukur dikemudian hari. Bagaimana? Sepakat atau tidak, boleh kok kalau tidak sepakat. Kan saya sudah jelaskan, jangan sampai percaya 100 persen dengan tulisan saya ini.
***
Dari tulisan di atas yang saya pelajari adalah bagaimana seseorang bisa menempatkan dirinya, dan kenapa seseorang masih saja menjomblo. Tapi setidaknya yang harusnya kita lakukan adalah tetap menjadi seorang jomblo yang mulia alias jomblo berkelas.
Hampir 3 tahun belakangan ini saya mencoba menempatkan diri saya pada suatu tempat agar kelas saya sebagai seorang jomblo juga dinilai baik. Yakni, lebih memilih sendiri, namun sebenarnya saya pun masih bisa memiliki pacar. Ada banyak kisah tentang siapa saja yang datang dan pergi. Sekedar mengenal, mampi sebentar lalu saling meninggalkan pergi sebelum terciptanya penyesalan. Kesendirian saya adalah menegaskan diri tak mau dilukai dan melukai. Setidaknya sudah saya coba berikan pembatas, sampai pada akhirnya saya siap dan bisa langsung menikahkan seseorang yang kelak menjadi istri saya.
Selain itu, saya mencoba menjadi seorang jomblo yang memiliki visi dan misi. Jomblo yang memiliki visi dan misi adalah jomblo yang tengah menata hidup seperti apa yang ingin dituju. Bagi saya, berpacaran bukan soal rasa aku dan dia saling mencintai. Tapi juga berbicara mimpi dan cita-cita dalam kehidupan. Sehingga, ketika putus hampir empat tahun lamanya, saya menjadikan hasrat ingin pacaran nomor sekian. Saya fokus dengan aktifitas menulis saya. Menjadikan seorang jomblo yang kerap mengisi ruang publik dengan karya. Hingga akhirnya Tuhan benar-benar mempertemukan saya dengan orang yang sepahaman, baik tentang mimpi, cita-cita dan bagaimana cara membangun rumah tangga.
Meski saya memilih sendiri dan tengah mendirikan visi dan misi pada kehidupan, saya tak menutup ruang pergaulan. Justru saya membuka ruang lingkup pergaulan seluas-luasnya. Ruang lingkup itu saya buka dengan pertemanan. Tak ada yang lebih baik, dari pada memperbanyak musuh maka saya memperbanyak teman. Itu jugalah ketika saya memutuskan untuk tidak kembali berpacaran. Yang saya khawatirkan ketika saya memutuskan untuk pacaran dan pada akhirnya putus, justru bisa menjadi ruang permusuhan, dan tercipta jarak pada pertemanan karena rasa sungkan. Saya menghindari pertemanan yang rusak hanya karena masalah pacaran.
Selain itu, saya pun percaya, bahwa lingkungan pertemanan yang luas akan membawa saya pada pertemuan dengan seseorang yang akhirnya menjadi jodoh saya kelak. Saya masih memperoleh banyak refrensi tentang seseorang yang bisa saya nikahkan, atau setidaknya menyempatkan diri untuk bertanya kepada banyak teman tentang seseorang, apakah dia (seorang wanita) yang selama ini saya cari.
Saya pun berusaha untuk tidak cengeng. Ketika orang-orang menghina saya sebagai seorang jomblo, lantas apa yang harus saya perbuat. Saya perlu menegaskan, yang saya lakukan hanya satu, yakni untuk tidak cengeng. Saya berusaha untuk tidak memelaskan diri saya sendiri karena berlabel jomblo. Saya pun menguatkan diri dengan mengumpulkan rasa percaya diri, dengan menjalani aktifitas setiap harinya sendiri. Maka satu permintaan saya sampai hari ini, “jangan kasihani saya sebagai seorang jomblo.”
Kenapa saya tak perlu dikasihani sebagai seorang jomblo. Jawabnya, karena saya memiliki idealisme sebagai seorang jomblo. Idealisme seorang jomblo, bukan berarti saya adalah seorang laki-laki yang angkuh dan sombong karena sedang memilih-milih. Oh tidak. Saya hanya tidak ingin menyia-nyikan visi dan misi yang telah saya buat. Saya harus benar-benar yakin dalam menjalin hubungan. Karena memilih pasangan bukan dilihat dari kenikmatan sesaat. Tapi juga kenikmatan dunia dan akhirat. Jelas, untuk itu saya telah meneguhkan diri, “dari pada menyakiti banyak wanita karena hanya berlandaskan hasrat ingin memiliki, lebih baik saya menyendiri dan menemukan cinta sejati yang bisa menemani saya hingga akhir hayat nanti berpulang kepangkuan Illahi.”
Terakhir yang saya lakukan adalah, memantaskan diri. Sebenarnya saya adalah salah satu dari bagian orang-orang yang sudah siap membangun rumah tangga. Saya telah siap menjadi seorang bapak dan seorang kepala keluarga. Hanya saja, saat ini saya tengah memantaskan diri. Saya merasa dengan memilih jalur sebagai seorang jomblo saya bisa mengetahui seberapa jauh saya mempunyai hasrat memiliki. Saya tak ingin sembarangan memilih calon istri. Maka saya tengah memantaskan diri untuk didatangkan pula calon istri yang pantas untuk saya miliki.
Untuk itu, tak ada yang lebih baik selain saya memperbaiki diri saya terlebih dahulu. Siapa laki-laki di dunia ini yang ingin memperoleh seorang wanita yang baik hati dan bisa disebut sebagai wanita yang soleha. Begitupun sebaliknya yang diinginkan seorang wanita terhadap laki-laki yang diharapkan menjadi imamnya. Dan setiap orang punya penilaian tersendiri atas apa yang ingin ia miliki, termasuk tentang pasangan.


Previous
Next Post »